Ikuti @fauzinesia

FILSAFAT MASA PRA SOCRATES

Filsafat pra Socrates adalah filsafat yang dilahirkan karena kemenangan akal atas dongen atau mite-mite yang diterima dari agama yang memberitahukan asal muasal segala sesuatu. Baik dunia maupun manusia para pemikir atau ahli filsafat yang disebut orang bijak yang mencari-cari jawabannya sebagai akibat terjadinya alam semesta beserta isinya tersebut.
Sedangkan arti filsafat itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia artinya bijaksana atau pemikir yang menyelidiki tentang kebenaran-kebenaran yang sebenarnya untuk menyangkal dongeng-dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama.
Pemikiran filosuf inilah yang memberikan asal muasal segala sesuatu baik dunia maupun manusia yang menyebabkan akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng atau mite-mite tersebut dengan dimulai oleh akal manusia untuk mencari dengan akalnya dari mana asal alam semesta yang menakjubkan ini.
Para filosuf yang tergolong dalam filosuf alam ialah:
1. Thales (625-545 SM)
Thales adalah seorang saudagar yang banyak berlayar ke negeri Mesir. Ia juga seorang ahli politik yang terkenal di Milatos. Dalam pada itu masih ada kesempatan baginya untuk mempelajari ilmu matematik (ilmu pasti) dan astronomi (ilmu bintang).
Ada cerita yang mengatakan bahwa Thales sangat menyisihkan diri dari pergaulan bebas. Ia berpikir senantiasa, dan pikirannya terikat pada alam semesta. Pada suatu hati Thales berjalan-jalan, matanya asyik memandang ke atas, memandang keindahan alam langit. Dengan tanpa sepengetahuannya ia terjatuh masuk lubang, seorang perempuan tua yang lalu dekat itu menertawakannya sambil berkata, “Hai Thales, jalan di langit engkau ketahui, tetapi jalanmu di bumi tidak kau ketahui.
Sungguh demikian Thales terbilang bapak filosufi Yunani, sebab dialah filosuf yang pertama. Filosofinya diajarkan dengan mulut saja, dan dikembangkan oleh murid-muridnya dari mulut ke mulut pula. Baru Aristoteles, menuliskannya kemudian.
Menurut keterangan Aristoteles, kesimpulan ajaran Thales ialah semuanya adalah air. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok, dan dasar segala-galanya. Bagi Thales, air adalah sebab yang pertama dari segala yang ada. Di awal air di ujung air. Asal air pulang air. Air yang satu itu adalah bingkai dan pula isi. Atau dengan kata lain filosofi air adalah substrat dan subtansi kedua-duanya.
2. Anaximandros (610-547 SM)
Anaximandros adalah salah satu dari murid Thales. Ia lebih muda lima belas tahun dari Thales, tapi meninggal lebih dulu dari Thales. Anaximandros adalah seorang ahli astronomi dan ilmu bumi.
Sebagai filosuf ia lebih besar dari gurunya. Oleh karena itu meskipun ia murid Thales, namun mempunyai prinsip dasar alam memang satu akan tetapi prinsip dasar tersebut bukanlah dari jenis benda alam seperti air sebagaimana yang dikatakan gurunya. Prinsip dasar alam haruslah dari jenis yang tak terhitung dan tak terbatas yang oleh dia disebut apeiron.
Apeiron adalah zat yang tak terhingga dan tak terbatas dan tidak dapat dirupakan, tak ada persamaannya dengan apapun. Segala yang kelihatan itu, yang dapat ditentukan rupanya dengan panca indra kita, adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga, sebab itu barang asal, yang tiada berhingga, dan tiada berkeputusan, mustahil salah satu dari barang yang berakhir itu. Segala yang tampak dan terasa dibatasi oleh lawannya. Yang panas dibatasi oleh yang dingin. Dimana bermula yang dingin disana berakhir yang panas. Yang cair dibatasi yang beku, yang terang oleh yang gelap. Dan bagaimana yang berbatas itu akan dapat memberikan sifat kepada yang tidak berkeputusan.
Segala yang tampak dan terasa, segala yang dapat ditentukan rupanya dengan pancaindera kita, semuanya itu mempunyai akhir. Ia timbul, hidup, mati dan lenyap. Segala yang berakhir berada dalam kejadian senantiasa, yaitu dalam keadaan berpisah dari yang satu kepada yang lain. Yang cair menjadi beku dan sebaliknya. Semuanya itu terjadi dari ada apeiron dan kembali pula kepada apeiron.
Disitu tampak kelebihannya dari pada gurunya. Selagi Thales berpendapat bahwa barang yang asal itu salah satu dari yang lahir, yang tampak, yang berhingga juga, Anaximandros meletakkannya di luar alam yang memberikan sifat yang tiada berhingga padanya dengan tiada dapat diserupai.
3. Anaximenes (585-494 SM)
Anaximenes adalah salah satu murid Anaximandros. Ia adalah filosuf alam terakhir dari kota Miletos. Sesudah ia meninggal dunia kemajuan filosuf alam berakhir di kota tersebut. Banyak ahli fikir dari kota tersebut sebab kota Miletos pada tahun 494 SM diserang dan ditaklukan oleh bangsa Persia. Dengan kepergian para ahli fikir itu, maka kebesaran kota Miletos sebagai pusat pengajaran filosufi alam lenyap.
Pandangan filsafatnya tentang kejadian alam ini sama dasarnya dengan pandangan gurunya. Ia mengajarkan bahwa barang yang asal itu satu dan tidak berhingga. Hanya saja ia tidak dapat menerima ajaran Anaximandros, bahwa barang yang asal itu tak ada persamaannya dengan barang yang lain dan tak dapat dirupakan. Baginya yang asal itu mestilah satu dari yang ada dan yang tampak. Barang yang asal itu ialah udara. Udara itulah yang satu dan tidak berhingga.
Thales mengatakan air asal dan kesudahan dari segala-galanya. Anaximenes mengatakan udara. Udara yang memalut dunia ini, menjadi sebab segala yang hidup. Jika tak ada udara itu, tak ada yang hidup. Pikirannya ke sana barangkali terpengaruh oleh ajaran Anaximandros, bahwa “ Jiwa itu serupa dengan udara.”
Sebagai kesimpulan ajarannya dikatakan: “Sebagaimana jiwa kita, yang tidak lain dari udara, menyatukan tubuh kita, demikian pula udara mengikat dunia ini jadi satu”.
4. Pythagoras (¬572 – 497 SM )
Menurut kepercayaan Pythagoras manusia itu asalnya tuhan. Jiwa itu adalah penjelmaan dari tuhan yang jatuh kedunia karena berdosa, dan ia akan kembali ke langit ke dalam lingkungan tuhan bermula, apabila sudah habis dicuci dosanya itu. Menurut kepercayaannya itu, Pythagoras menjadi penganjur Vegetarismre, memakan sayur-mayur dan buah-buahan saja. Tetapi tak cukup orang hidup membersihkan hidup jasmani saja, akan tetapi rohani juga. Manusia harus berzikir senantiasa untuk mencapai kesempurnaan hidupnya. Menurut keyakinan kaum Pythagoras setiap waktu orang harus menanggung jawab hatinya tentang perbuatannya sehari-hari.
Hidup di dunia ini menurut paham Pythagoras adalah persediaan buat akhirat. Berlagu dengan musik adalah juga sebuah jalan untuk membersihkan. Dalam penghimpunan kaum Pythagoras musik itu dimuliakan.
Filsafah pemikirannya banyak diilhami oleh rahasia angka-angka. Ia beranggapan bahwa hakikat dari segala sesuatu adalah angka. Batas, bentuk, dan angka dalam pengertian Pythagoras adalah sesuatu yang sama. Dunia angka adalah dunia kepastian dan dunia ini erat hubungannya dengan dunia bentuk.
Kata-kata Pythagoras, bahwa : “all things are numbers”, tampak seolah-olah omong kosong belaka, akan tetapi justru ajaran itulah yang menjadi segala pokok pangkal ilmu hakikat, ilmu pasti, theology, mistika dan tasawuf.
Dari sini dapat dilihat kecakapan dia dalam matematik mempengaruhi terhadap pemikiran filsafatnya, sehingga pada segala keadaan ia melihat dari angka-angka dan segala keadaan merupakan paduan dari unsur angka. Angka adalah asal dari segalanya dan segala macam perhubungan dapat dilihat dari angka-angka.
5. Heraklitos (535-475 SM)
Filsafat Heraklitos merupakan filsafat menjadi. Tak ada sesuatu yang ada secara tetap, segala sesuatu dalam keadaan menjadi. Segala sesuatu bergerak secara abadi: “Segala sesuatu berlalu dan tak ada sesuatu pun yang tinggal diam”. Kita tak akan dapat dua kali turun ke dalam arus yang sama, airnya senantiasa berganti. Begitulah segala sesuatu. Tak ada sesuatu pun yang kekal, tak ada sesuatu pun yang kekal, tak ada sesuatu pun yang tetap, hakekat segala sesuatu adalah perubahan, keadaan (sedang) menjadi. Keadaan menjadi ini selalu terjadi dalam suatu pertentangan, dari kehidupan timbul kematian, dari kematian timbul kehidupan, dari bagian-bagian timbul keseluruhan, dari keseluruhan timbul bagian-bagian.
Heraklitos mengemukakan pendapatnya, ia mempercayai bahwa arche (asas yang pertama dari alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada, dan mengubahnya sesuatu itu menjadi abu atau asap. Walaupun sesuatu itu apabila dibakar menjadi abu atau asap, adanya api tetap ada. Segala sesuatunya berasal dari api, dan akan kembali ke api.
Menurut pendapatnya, di dalam arche terkandung sesuatu yang hidup
(seperti roh) yang disebutnya sebagai logos (akal atau semacam wahyu). Logos inilah yang menguasai dan sekaligus mengendalikaan keberadaan segala sesuatu. Hidup manusia akan selamat apabila sesuai dengan logos.
6. Parmenides (540-475 SM)
Ia lahir di kota Elea, kota perantauan Yunani di Italia Selatan. Dialah yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang ada (being).
Ia kagum adanya misteri segala realitas yang ada. Di situ ia menemukan berbagai (keanekaragaman) kenyataan, dan ditemukan pula adanya hal yang tetap dan berlaku secara umum. Sesuatu yang tetap dan berlaku umum itu tidak dapat ditangkap melalui indera, akan tetapi akan ditangkap lewat pikiran atau akal. Untuk memunculkan realitas tersebut hanya dengan berpikir.
Yang ada (being) itu ada, yang ada tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan yang tidak ada adalah tidak ada, sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan.
Jadi, yang ada (being) itu satu, umum, tetap dan tidak dapat dibagi-bagi. Karena membagi yang ada akan menimbulkan atau melahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin. Yang ada tidak dijadikan dan tidak dapat musnah. Tidak ada kekuatan apapun yang dapat menandingi yang ada. Tidak adaaaaaa sesuatu pun yang sapat ditambahkan atau mengurangi terhadap yang ada. Kesempurnaan yang ada digambarkan, sebuah bola yang jaraknya dari pusat kepermukaan semuannya sama. Yang ada di segala tempat, oleh karananya tidak ada ruangan yang kosong, maka di luara yang ada masih ada sesuatu yang lain.
7. Leukippos ( 540 SM)
Leukippos adalah ahli pikir yang pertama mengajarkan tentang atom. Menurut pendapatnya tiap benda terdiri dari atom.
Yang dipakai sebagai dasar teorinya tentang atom ialah yang penuh dan kosong. Atom dinamainya yang penuh sebagai benda betapapun kecilnya dan bertubuh. Dan setiap yang bertubuh mengisi lapangan yang kosong. Jadi di sebelah yang penuh dan yang kosong itulah kejadian alam ini. Keduandan yang penuh dan yang kosong mesti ada sebab kalau tak ada yang kosong atom itu tidak dapat bergerak.
Seperto Parmenides, ia menyatakan tidak mungkin ada penciptaan dan pemusnahan mutlak, akan tetapi ia tidak ingin menolak kenyataan banyak, bergerak, lahir ke dunia dan menghilang yang tampak pada segala sesuatu. Banyak, gerak, lahir dan hilang tidak mungkin kita paham tanpa adanya tidak ada (non-being), dalam hal ini ia selendapat dengan Parmenides, namun ia menambahka bahwa tidak ada (non-being) mempunyai arti pula sebagaimana ada (being). Being berarti pemenuhan ruang, berarti pula penuh, non-being berarti kekosongan.

8. Demokritos ( 460-360 SM)
Menurut Demokritos, segala sesuatu mengandung penuh dan kosong. Jikalau kau menggunakan pisau itu harus menemukan ruang kosong, supaya dapat menembus. Jika apel itu tidak mengandung kekosongan, ia tentu keras dan secara pisik tidak dapat dibelah. Sedangkan bagian yang penuhdari segala sesuatu dapat dibagi-bagi menjadi titik-titik yang tak terbatas jumlahnya., dank arena kecilnya ia tidak dapat ditangkap dengan pancaindera. Bagian kecil-kecil itu tak dapat dibagi dan tidak mengandung kekosongan. Ia bernama atomos yang artinya tak dapat dibagi.
Demokritos adalah murid Leukippos, dan sama dengan pendapat gurunya bahwa alam ini terdiri dari atom-atom yang bergerak-gerak tanpa akhir, dan jumlahnya sangat banyak. Dan ia sependapat dengan Heraklitos, bahwa anasir pertama adalah api. Api terdiri dari atom yang sangat halus, licin dan bulat. Atom apilah yang menjadi dasar dalam segala yang hidup. Atom api adalah jiwa.
Jiwa itu tersebar keseluruh badan kita, yang menyebabkan badan kita bergerak. Waktu bernafas kita tolak ia keluar. Kita hidup hanya selama kita bernafas. Demikianlah Demokratis menjadikan atom sebagai asas hidup penglihatan, perasaan dan pendengaran, semuanya timbul dari gerak atom.






BAB III
PENUTUP
Simpulan
Para filosof pada masa pra Socrates di antaranya adalah Thales, Anaximandros, Anaximenes, Pythagoras, Heraklitos, Parmenides, Leukippos dan Demokratis merupakan filosof yang tidak mempercayai cerita-cerita tentang keadaan alam begitu saja tanpa mempersoalkannya lebih jauh. Mereka tidak sama dengan kebanyakan orang pada saat itu yang hanya menerima begitu saja keadaan alam seperti apa yang ditangkap oleh inderanya dan cukup puas walau hanya menerima keterangan tentang kejadian alam dari cerita nenk moyang tau legenda pada saat itu.
Thales merupakan salah satu dari filosuf alam yang memiliki pemikiran bahwa “Semuanya itu air”, dari pemikiran yang diungkapannya itu tersimpul dengan sengaja atau tidak. Suatu pandangan yang dalam, yaitu bahwa “Semuanya itu satu”. Selain itu, Anaximandros salah satu dari murid Thales juga mengungkapkan pemikirannya yang ia dapat bahwa prinsip dasar alam memang satu, akan tetapi bukanlh dari jenis benda alam seperti air sebagaimana yang dikatakan oleh gurunya. Prinsip dasar haruslah dari jenis yang tak terhitung dan tak terbatas yang oleh dia disebut apeiron.
Meskipun mereka berdua seorang filosuf dan memiliki hubungan yaitu guru dengan murid namun dalam segi pemikiran mereka berbeda. Para filosuf tidak begitu saja mempercayai pemikiran atau cerita, meskipun orang terdekat mereka yang mengemukakan, apalagi itu tentang keadaan alam. Mereka lebih berusaha untuk mendapatkan keterangan tentang inti dasar alam itu sendiri dari daya pikirnya sendiri. Seperti Thales dan Anaximandros begitu juga dengan filosuf lainnya. Maka mereka pantas mendapat sebutan sebagai pemikir yang radikal, karena pemikiran mereka begitu mendalam hingga ke akar-akarnya.
DAFTAR PUSTAKA

Delfgaauw,Bernard. 1992. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Achmadi, Asmoro, Drs. 1997. FILSAFAT UMUM. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Fauzi,Mudakir. Filsafat Pra Socrates. http//:www.google.com. 2009/03/21.

Mudzakir, Ahmad, Drs. H. M.A dan Drs. Mudzakir. 1997. FILSAFAT UMUM. Bandung: Pustaka Setia.

ARTIKEL TERKAIT:

Post a Comment

Mari kasih komentar, kritik, dan saran. Jangan lupa juga isi buku tamunya. :D

NB: No Porn, No Sara', No women, No cry

Cari disini

#Pengunjung

Instagram