Ikuti @fauzinesia

Cara-cara Takhrijul Hadits

Enonk Eno Reply 12/28/2010
FAUZIANNOR: 0901210208
FAIZAH: 0901210206
DJAITUN: 0901210201
PEMBIMBING: Drs.H.Abidin Ja’far,Lc.M,Ag
BAB II
PEMBAHASAN

CARA PELAKSANAAN TAKHRIJUL HADITS

A.Takhrij al-Hadits
Takhrij artinya mengeluarkan. Jadi, takhrij al-hadits artinya mengeluarkan hadits. Sedangkan yang dimaksud dalam bahasan ini adalah menunjukkan letak suaru hadis nabi yang dimaksud dalam sumber-sumber aslinya dengan menerangkan rangkaian sanad-nya, kemudian menjelaskan nilai hadis tersebut jika diperlukan.
Adapun hadits yang akan kami takhrij, yaitu hadits tentang mandi:

a. Hadits yang bersumber dari Hammam ibn Munabbih dari Abu Hurairah
ﺤﺪﺜﻧﺎ ﺇﺴﺣﺎﻖ ﺒﻥ ﻧﺻﺮ ﻘﺎﻞ: ﺤﺪﺜﻧﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﻋﻥ ﻣﻌﻣﺮ ﻋﻥ ﻫﻣﺎﻢ ﺒﻥ ﻤﻧﺒﻪ ﻋﻥ ﺍﺒﻰ ﻫﺮﻴﺮﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻧﺒﻰ ﺼﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﯾﻪ ﻭ ﺴﻟﻡ ﻗﺎﻞ: ﻜﺎﻧﺖ ﺒﻧﻮ ﺇﺳﺮﺍﺌﯿﻝ ﯿﻐﺘﺴﻟﻮﻥ ﻋﺮﺍﺓ ﯿﻨﻈﺮ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﻰ ﺒﻌﺾ. ﻮﻛﺎﻦ ﻣﻮﺴﻰ ﻳﻐﺗﺴﻞ ﻮﺤﺪﻩ, ﻔﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻮﺍﷲ, ﻤﺎﯿﻤﻨﻊ ﻣﻮﺳﻰ ﺍﻦ ﻳﻐﺗﺴﻞ ﻣﻌﻧﺎ ﺍﻻ ﺍﻧﻪ ﺁﺪﺮ. ﻓﺫﻫﺐ ﻣﺮﺓ ﻴﻐﺗﺴﻝ ﻓﻮﻀﻊ ﺛﻮﺒﻪ ﻋﻠﯽ ﺤﺠﺮ. ﻓﻓﺭﱠ ﺍﻟﺤﺠﺮ ﺒﺜﻮﺒﻪ. ﻔﺨﺮﺝ ﻣﻭﺳﻰ ﻓﻲ ﺃﺜﺮﻩ, ﻴﻘﻮﻝ: ﺜﻮﺑﻲ ﻴﺎﺣﺠﺮ! ﺜﻮﺑﻲ ﻴﺎﺣﺠﺮ! ﺤﺗﻰ ﻧﻈﺮﺖ ﺑﻧﻮ ﺇﺴﺮﺍﺌﻳﻝ ﺍﻟﻰ ﻣﻮﺴﻰ. ﻔﻗﺎﻠﻮﺍ: ﻮﺍﷲ ﻣﺎ ﺒﻣﻮﺳﻰ ﻣﻦﺒﺄﺱ.ﻮﺃﺨﺫﺜﻮﺒﻪﻔﻁﻔﻕﺑﺎﻟﺤﺠﺮﻀﺮﺑﺎ ﻔﻗﺎﻞ ﺍﺒﻮﻫﺮﯿﺮﺓ ﻮﺍﷲ ﺇﻧﻪ ﻠﻧﺪﺏ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮ ﺳﺗﱠﺔ ﺍﻮ ﺴﺒﻌﺔ ﺿﺮﺑﺎ ﺑﺎﻟﺣﺠﺮ{ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻠﺒﺨﺎﺭﻯ}
b. Hadits yang bersumber dari ‘Atha ibn Yasaar dari Abu Hurairah
ﺮﻮﻯ ﺍﺑﺮﺍﻫﯿﻢ ﻋﻥ ﻣﻮﺴﻰ ﺑﻦ ﻋﻗﺑﺔ ﻋﻥ ﺼﻔﻮﺍﻦ ﺑﻦ ﺴﻠﻴﻢ ﻋﻥ ﻋﻁﺎﺀ ﺒﻦ ﯾﺴﺎﺮﻋﻥ ﺍﺒﻰ ﻫﺮﻴﺮﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻧﺒﻰ ﺼﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﯾﻪ ﻭ ﺴﻟﻡ ﻗﺎﻞ ﺒﯿﻨﺎ ﺍﻴﱡﻮﺏ ﯿﻐﺘﺳﻞ ﻋﺮﻴﺎﻧﺎ ﻔﺧﺮﱠ ﻋﻟﯾﻪ ﺠﺮﺍﺪ ﻣﻦ ﺫﻫﺐ ﻔﺠﻌﻝ ﺍﯿﱡﻮﺏ ﯿﺤﺘﺛﻰ ﻓﻲ ﺜﻭﺒﻪ ﻔﻧﺎﺪﺍﻩ ﺮﺑﱡﻪ ﺍﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﺍﻏﻨﻳﺗﻚ ﻋﻣﱠﺎ ﺗﺮﻯ ﻗﺎﻞ ﺒﻟﻰ ﻮ ﻋﺯﱠﺘﻚ ﻮ ﻠﻛﻦ ﻻ ﻏﻧﻰ ﺒﻰ ﻋﻥ ﺒﺭﻛﺗﻚ {ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻠﺒﺨﺎﺭﻯ}
Untuk men-takhrij hadits, maka kami terlebih dahulu menggunakan kamus hadits Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfaazh Al-Hadits Al-Nabawi dengan mencari akar kata dalam matn hadis tersebut, yaitu lafal gasala/igtasala. Penulis menemukan bab yang berjudul sesuai dengan yang . Dari sini dapat diketahui bahwa riwayat hadis dari Abu Hurairah hanya ada satu jalur periwayatan, yaitu:
Imam Bukhari mengeluarkan dalam Shahih Bukhari, bersumber dari Abu Hurairah, kitab al-gusl, bab man igtasala ‘uryanan wahdahu fi khalwatihi, juz I, halaman 83-84, terbitan Dar Al Fikr, Beirut, 1994, dengan lafaz (bi lafziah), ada dua riwayat.
Adapun hadits-hadits tentang mandi sendirian dalam keadaan tanpa pakaian, semuanya diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari adalah sebagai berikut:


B. I’tibar al-Sanad
I’tibar al-Sanad dilakukan untuk memperhatikan seluruh jalur sanad yang diteliti, nama-nama perawi, dan metode periwayatan yang digunakan, sehingga dapat diketahui sanad hadis seluruhnya.
Hadits-hadits tentang mandi sendirian dalam keadaan tanpa pakaian ada 2 buah dan melibatkan 10 orang perawi, satu di antaranya berstatus mukharrij, keseluruhan dari para perawi-perawi ini terdapat dalam Shahih Bukhari, berikut rinciannya:
1. Abu Hurairah Abdurrahman ibn Shakhr
2. Hammam ibn Munabbah Al-Yamaani
3. ‘Atha ibn Yasaar Al-Hilaali
4. Ma’mar ibn Rasyiid Al-Azadi
5. Shofwan ibn Sulaim Al-madani
6. Abdurrazzaaq ibn Hammam
7. Musa ibn ‘Uqbah ibn Abi ‘Iyyash Al-Asadi
8. Ishaaq ibn Ibrahiim ibn Nashr
9. Ibrahiim ibn Rasysyaad Al-Ramaadi
10. Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim (Imam Bukhari).
Metode yang digunakan setiap perawi bervariasi, yaitu menggunakan lafazh haddasana, ‘an dan qala. Variasi lambang periwayatan tersebut menandakan adanya perbedaan metode periwayatan hadis yang dipakai oleh para perawi hadits ini. Untuk sistematika sanad, lihat skema berikut:




























I. Identitas dan status para perawi (Kritik Sanad).
Dari skema yang digambarkan sebelumnya. Dapat diketahui secara jelas para perawi yang terlihat dalam periwayatan hadis-hadis tersebut. Kemudian untuk mengetahi secara detil identitas dan status setiap perawi, maka penulis menggunakan beberapa kitab rijal al-hadits, yaitu Tahzib al-Tahzib dan Taqrib al-Tahzib (karya Ibnu Hajur Al-Asqalani).
Pada hal ini, kami membuat matrik masing-masing perawi dari beberapa jalur periwayatan tersebut dalam beberapa bagian, yaitu:
1. Nomor perawi hadits (Numrah)
2. Nama perawi atau mukharrij (ism al-rawi aw al-mukharrij)
3. Nama Panggilan (al-kunniyah) atau gelar (al-laqb)
4. Guru-guru perawi (rawa ’an)
5. Murid-murid perawi (rawa ‘anhu)
6. Tempat tinggal perawi (bilad al-iqamah wa al-maskan)
7. Generasi perawi (al-thabaqah)
8. Penilaian ulama terhadap perawi (al-jarh wa al-ta’dil li al-rawi)
9. Tahun wafat dan umur perawi (tarikh al-wafah wa al-‘umr)
10. Sumber rujukan atau referensi (al-mashadir)
Dengan demikian, dapat dilacak kualitas hadis tersebut dari segi sanad-nya, apakah berstatus shahih, hasan maupun dha’if, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Ash-Shalah yang dikutip Al-Khatib tentang beberapa rumus ke-shahih-an hadis yaitu:
1. Kontinuitas sanad dari Nabi saw. sampai kepada mukharrij-nya (diketahui melalui guru, murid, tempat tinggal, generasi, tahun wafat, dan umur perawi).
2. Para perawinya dinilai memiliki ‘adalah dan dabt yang diistilahkan dengan tsiqah (diketahui melalui penilaian ulama hadis).
3. Terhindar dari kejanggalan (syudzudz) dan cacat (‘illah), khusus untuk matn.
Untuk matrik perawi hadis dari masing-masing jalur periwayatan, lihat matriks yang penulis sisipkan di beberapa halaman terakhir.
Dalam menentukan sifat dan martabat hadits, hal yang pertama dilakukan adalah mengetahui nama-nama perawi, mengetahui kualitas kepribadian mereka dan ketersambungannya mereka terhadap perawi sebelumnya. Untuk itu berikut nama-nama perawi dalam mata rantai sanad yang sudah diidentifikasi satu persatu.
Hadits yang bersumber pada Hammam ibn Munabbih dari Abu Hurairah:
1. Muhammad ibn Isma’il (Al-Bukhari)
a. Nama dan Hidupnya
Namanya adalah Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim ibn Al-Mugirah ibn Bardizbah Al-Jafi, lebih dikenal dengan Imam Bukhari, generasi tabi’in ke-sebelas.
Ia menerima hadits dari banyak periwayat, di antara lain Ali ibn Al-Madini , Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf Al-Faryabi, Makki ibn Ibrahim Al-Bakhi, Ibnu Rahawaihi, Abu Al-Yaman, Muhammad ibn Abdullah Al-Anshari, Ibrahim ibn Basysyar, ‘Affan, ‘Ubaidillah ibn Musa dan lain-lain.
Wafat pada tahun 265 H dengan umur 61 tahun.
b. Komentar Ulama
Jumhur ulama mengatakan ke-tsiqahan-nya
2. Ishaq ibn Nashr
a. Nama dan Hidupnya.
Ia bernama lengkap Ishaq ibn Ibrahim ibn Nashr Al-Bukhari, gelarnya adalah Abu Ibrahim.
Ia menerima riwayat dari Abu usamah, Abdurrazaq dan lain-lain.
Wafat pada tahun 232 H.
b. Komentar Ulama
- Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam kumpulan orang-orang tsiqah dalam kitabnya.
- Ketika Ibnu Mu’in ditanya tentang Ishaq ibn Nashr, ia pun menjawab: “Dia Perawi yang tsiqah.”
3. Abdurrazaq
a. Nama dan Hidupnya
Perawi ini mempunyai nama lengkap Abdurrazaq ibn Hammam ibn Nafi’, tapi ia lebih dikenal dengan sebutan Abu Bakar Ash-shan’ani.
Meriwayatkan hadits dari Hammam ibn Nafi’(ayahnya), Wahab(pamannya), Ma’mar, ‘Ubaidillah ibn Umar dan lain-lain.
Ia wafat pada tahun 211 H.
b. Komentar Ulama
- Ahmad ibn Sholih Al-Mishri bertanya pada Ahmad ibn Hambal,”Apakah ada orang yang lebih baik dalam meriwayatkan hadits selain Abdurrazaq?” Ia pun berkata,”Tidak ada.”
- Abu Zar’ah Ad-Dimisyqi berkata: ”Ia seorang tsiqah.”
- Ibnu Asy-Syadzakwani berkata: “Ia termasuk dari orang-orang yang paling kuat ingatannya.”
- Ibnu ‘Adi berkata: “Ia orang yang mempunyai banyak karangan dan meriwayatkan banyak hadits.”
- Ibnu Hibban juga memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang tsiqah.
4. Ma’mar
a. Nama dan Hidupnya
Ia mempunyai nama lengkap Ma’mar ibn Rasyid Al-Azadi Al-Bashari.
Perawi ini meriwayatkan hadits dari Tsabit Al-Bannani, Abdurrazaq ibn Hammam, Qatadah, Az-Zuhri, ‘Ashim Al-Ahwal dan lain-lain.
Wafat pada tahun 152 H.
b. Komentar Ulama
- Abdurrazaq berkata: “ Semua hadits yang dibacakan oleh Ma’mar ibn Rasyid sungguh membekas di hatiku (yanqusyu fi shadri).”
- Ad-Dauri menceritakn dari Ibnu Mu’in: “Ma’mar termasuk kategori orang-orang yang paling tsabit (min atsbat an-naas).”
- ‘Amr ibn Ali mengatakan bahwa ia orang yang sangat jujur(ashdaq).
- Menurut Mu’awiyah, Ma’mar termasuk orang tsiqah.
- An-Nasa’i berkata tentang Ma’mar: “Perawi yang tsiqah dan terpercaya (ma’mun).”
5. Hammam ibn Munabbih
a. Nama dan Hidupnya
Ia mempunyai nama lengkap Hammam ibn Munabih ibn Kamil ibn Syaikh Al-Yamani.
Meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah,Mu’awiyah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair dan lain-lain.
Dikatakan bahwa ia meninggal pada tahun 131 H.
b. Komentar Ulama
- Ishaq ibn Manshur dari Ibnu Mu’in berkata: “Ia (Hammam ibn Munabih) orang yang tsiqah.”
- Ibnu Hibban mengkategorikannya ke dalam kumpulan orang-orang tsiqah.
- Al-Ajali berkata: “Hammam adalah tabi’in yang tsiqah.”
6. Abu Hurairah
a. Nama dan Hidupnya
Nama lengkapnya Abdurrahman Ibn Shakhr Ad-Dausi Al-Yamani, tapi lebih mahsyur dengan sebutan Abu Hurairah.
Ia wafat pada tahun 58 H pada usianya yang ke-78 tahun.
Ia seorang sahabat rasul yang termasuk paling banyak meriwayatkan hadits.
b. Komentar Ulama
- Menurut Al-Waqidi ia adalah orang yang jujur.
- Al-Bukhari berkata: “Banyak perawi yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah kira-kira delapan ratus orang atau lebih dari kalangan ahli ilmu, sahabat-sahabat Nabi serta tabi’in dan lain-lain.”

Nama-nama perawi dalam mata rantai sanad Hadits yang selanjutnya bersumber pada ‘Atha ibn Yasar dari Abu Hurairah:
7. Muhammad ibn Isma’il (Al-Bukhari)
Riwayat hidupnya sudah dikemukakan di atas.
8. Ibrahiim ibn Basysyaar
a. Nama dan Hidupnya
Yang dimaksud dengan nama ini adalah perawi yang bernama lengkap Ibarahim ibn Basysyar Ar Ramaadi, bergelar Abu Ishaq.
Ia menerima riwayat dari Ibnu ‘Uyaynah, Abu Mua’wiyah, Abdullah ibn Raja’ Al Makki dan lain-lain.
b. Komentar Ulama
Ulama hadits banyak berkomentar tentang Ibrahim ibn Basysyar, diantara komentar-komentar mereka adalah sebagai berikut:
- Al-Bukhari berkata: “Ia orang yang jujur (shaduq).”
- Ibnu Hibban berkata dalam kitabnya, Ats-Tsiqaat: “Ibrahim ibn Basysyar adalah orang yang dhabith.”
- Al-Hakim berkata: “Ia seorang tsiqah yang terpercaya (ma’mun).”
- Abu Hatim Ar-Razi dan Ath-Thayaalisi berkata: “ia orang yang jujur.”
- Yahya ibn Al-Fadhl berkata: “Demi Allah, ia orang yang tsiqah.”
9. Musa ibn ‘Uqbah
a. Nama dan Hidupnya
Nama lengkapnya ialah Musa ibn ‘Uqbah ibn Abi ‘Iyash Al-Asadi.
Ia menerima riwayat dari banyak periwayat, di antaranya, Ummu Khalid, Shofwan ibn Sulaim,Abu Hubaibah (kakeknya dari jihat ibu) dan lain-lain.
Ia wafat pada tahun 144 H.
b. Komentar Ulama
- Ibnu Sa’ad berkata: “Ia adalah orang yang tsiqah dan tsabit.”
- Ibrahim ibn Mundzir berkata: “Belajarlah darinya (Musa ibn ‘Uqbah), karena ia orang yang tsiqah.”
- Abdullah ibn Ahmad berkata: “Ia lelaki yang tsiqah.”
- Begitu juga (mengatakan bahwa Musa ibn ‘Uqbah adalah tsiqah) Ad-Dauri, Al-‘Ajali dan An-Nasa’i.
- Mush’ab ibn zubair berkata: “Dia orang yang mempunyai banyak ilmu dan berwibawa (hai’ah).”
- Abu Hatim berkata: “Musa ibn ‘Uqbah orang yang sholeh lagi tsiqah.”
10. Shofwan ibn Sulaim
a. Nama dan Hidupnya
Nama lengkapnya Sofwan ibn Sulaim Al-Madani, dengan gelar Abu Abdillah.
Wafat pada tahun 124 H.
Ia menerima riwayat dari Ibnu ‘Umar, Anas, Abu Basyrah Al-Ghifari, ‘Atha ibn Yasaari, Abdurrahman ibn Ghanam dan lain-lain.
b. Komentar Ulama
- Ibnu Sa’ad berkata: “Ia orang yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadits (katsirul hadits).”
- An-Nasa’i juga mengatakan bahwa ia tsiqah
- Ya’qub ibn Syaibah berkata: “Shofwan adalah orang yang tsiqoh, tsabt dan terkenal suka beribadah (masyhur ‘ibadah).”
- Al-‘Ajali bekata: “Ia lelaki dari madinah yang sholeh.”
- Abdullah ibn Ahmad dari ayahnya, berkata: “Ia perawi tsiqah terbaik dari para hamba Allah.”
- Yahya ibn Sa’id berkata: “Aku lebih menyukai Shofwan ibn Sulaim daripada Zaid ibn Aslam.”
11. ‘Atha ibn Yasaar
a. Nama dan Hidupnya
Nama lengkapnya adalah ‘Atha ibn Yasaar Al-Hilali Al-Madani atau biasa disebut Abu Muhammad Al-Madani.
Menerima riwayat dari Mu’adz ibn Jabal, Abu Dzar, Abu Huraira, Abu Darda’ dan lain-lain.
Meninggal pada tahun 103 H.
b. Kometar Ulama
- Al-Bukhari dan Ibnu Sa’ad mengatakan bahwa ia juga berguru pada Ibnu Mas’ud.
- Ibnu Mu’in, An-Nasa’i dan Abu Zar’ah berkata: “Ia orang yang tsiqah.”
- Ibnu Sa’ad: “Ia orang yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadits.”
- Berkata Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqaat: “Ia adalah ahli Ibadah.”
12. Abu Hurairah
Riwayat hidupnya sudah dikemukakan di atas.

Dari dua jalur riwayat di atas terlihat adanya ketersambungan (ittishaal) antara satu perawi dengan perawi setelahnya, dimulai dari mukharrij (Al-Bukhari) sampai kepada Shohib al-hadits Rasulullah SAW. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya sambungan yang terputus dari sanad pertama hingga sanad terakhir. Pernyataan ini berdasarkan pada umur dan pertemuan para rijal al hadits dalam satu masa/zaman.
Di samping itu, hampir keseluruhan dari para perawi mendapat predikat tsiqah dari ulama-ulama jarh wa ta’dil. Meskipun Ibrahim ibn Basyar di-tajrih sebagai orang yang tidak kuat hafalannya oleh An-Nasa’i, itupun tidak keterlaluan cacatnya. Bahkan Al-Hakim dan Yahya ibn Al-Fadhl menyatakan bahwa Ibrahim adalah orang yang tsiqah, serta diikuti oleh pengakuan Al-Bukhari, Abu Hatim Ar-Razi dan Ath-Thayaalisi bahwa ia termasuk orang yang shaduq.
Dari beberapa uraian itu, penulis berkesimpulan sementara bahwa hadits pertama yang diriwayatkan Al-Bukhari (yaitu hadits tentang Nabi Musa AS.) tersebut adalah shahih lidzatih dari segi sanad, dan hadits kedua (yaitu hadits tentang Nabi Ayyub) adalah shahih ligairih dari segi sanad.


BAB III
SIMPULAN

Meskipun hadits tentang Nabi Ayyub yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibrahim ibn Basyar berstatus hasan, karena salah satu dari perawinya dikatakan sebagai orang yang tidak sempurna hafalannya (sebagian lagi mengatakan bahwa ia adalah tsiqah lagi shaduq), tetap bisa menjadi landasan hukum bahwa boleh hukumnya mandi dalam keadaan telanjang. Lagipula isinya pun tidak bertentangan dengan nash-nash yang lebih kuat (maqbul), baik ayat Alquran maupun hadis yang sahih, maka penulis setelah meneliti sanad dan matn-nya, berkesimpulan bahwa hadits tentang mandi dalam keadaan telanjang dari riwayat Abu Hurairah ini sebagai hadits shahih ligairih.
Sedangkan hadits tentang Nabi Musa AS. Sudah tidak diragukan lagi keshahihannya. Karena, ditinjau dari segi sanad yangtersambung dan saling terkait, serta dari segi matn yang tidak terdapat syuzuz dan illat, dan juga lengkapnya semua syarat yang ditentukan para muhadditsin, maka penulis berkesimpulan bahwa hadits tersebut sebagai hadits yang shahih lidzatih.















DAFTAR PUSTAKA

Abu al-Husein Muslim ibn al-Hujjaj al-Qusyaiyri al-Naysaburi, Shahih Muslim, kitab haidh, bab jawaz al-igtisal uryaanan fi al-khalwah , Beirut, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 2002.
Al-Asqalani, Ibnu Hajar, Fathul Baari Syarh Kitab Shahih Al-Bukhari. Jakarta: Pustaka Azzam, 2006.
Al-Bani, Nashiruddin, Silsilah Ahadits Ash-Shahihah. Naskah di-tahqiq oleh Drs. H. M. Qodirun Nur dengan judul Silsilah Hadits Shahih, Qisthi Press, Jakarta, 2005.
Al-Bukhari, Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Isma’il, Sahih al-Bukhari, kitab al-Gusli, bab man igtasala ‘uryanan wahdahu bi khalwatihi, Beirut, Dar Al Fikr, 1994.
Al-Malibari, Zainuddin. Irsyaad Al-‘Ibaad, diterjemahkan oleh H. Mahrus Ali dengan judul yang sama, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
Ash-Shiddieqy, Hasbi, Mutiara Hadits. Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Asy-Syaukani. Nail Al-Authaar, diterjemahkan oleh Mu’ammal Hamidy dengan judul yang sama, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1993.
Husnan, Ahmad.. Kajian hadits metode takhrij. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1993.
Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fiqh mar’ah al-muslimah. Diterjemahkan oleh Anshari ‘Umar. CV Asy-Syifa, Semarang, tanpa tahun
Ismail, M. Syuhudi, Metodologi Penelitian Hadis, Jakarta, Bulan Bintang, 1992.
Katsir, Ibnu. Tafsiir Ibni Katsiir, naskah di-tahqiq oleh DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh dengan judul Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsir, Mu-assasah Daar al-Hilaal, Kairo, 1994.
Wensinck, A. J., Concodence et Indeces de la Tradition Musulmene, naskah di-tahqiq oleh Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi dengan judul al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadis al-Nabawi, Leiden, Brill, 1946.

ARTIKEL TERKAIT:

Post a Comment

Mari kasih komentar, kritik, dan saran. Jangan lupa juga isi buku tamunya. :D

NB: No Porn, No Sara', No women, No cry

Cari disini

logo blogger banua taken at randi azmi blog photo bloggerbanua_zpsc4d799fd.png
 photo logobloggeryeskompres.png
donor photo Reinhart-Blood-Drive.png

#Pengunjung

Instagram