Ikuti @fauzinesia

Romantika Perfilman Indonesia

Enonk Eno Reply 1/05/2013
Baru saja Festival Film Indonesia (FFI), atau yang dulu kita kenal dengan Piala Citra, selesai diselenggarakan di kota Jogjakarta. Dan sekedar berbagi, saya termasuk orang yang sangat "ketagihan" dengan film-film Indonesia. Dulu, waktu kecil, saya selalu menunggu acara Piala Citra. Yang mana pada saat itu saya masih "buta" tentang film bagus. Mungkin yang lahir 90an tahu film bagus seperti Daun Diatas Bantal, Biola Tak Berdawai, dan film Ada Apa Dengan Cinta. Dapat dikatakan film-film Indonesia bangkit di akhir 90an. Dan menurut saya, film Janji Joni yang rilis ditahun 2000 mulai memantapkan bangkitnya film Indonesia.

Hampir tiap tahun saya menonton acara Piala Citra. Dan, pola pikir saya mulai berubah ketika film Indonesia diisi oleh film-film hantu yang berbau sex. Yah, walaupun sebelumnya masih banyak, mungkin tepatnya dari 2005 sampai 2009, film2 hantu Indonesia masih banyak yang berkualitas. Kita ambil contoh Kuntilanak, Jaelangkung, dan yang paling saya suka yaitu Pocong 2. Bahkan, dulu sempat nominasi Piala Citra ada untuk kategori film horor terbaik.

Pada tahun 2007, dan itu terakhir memakai format nama Piala Citra, disana terjadi semacam "sinetron" didalam penyelenggarannya. Banyak drama yang terjadi. Puncaknya yaitu pengembalian piala dari beberapa aktor dan aktris yang mendapatkan piala citra. Saya kaget. Terlebih alasan mereka mengembalikan karena film "Ekskul", yang dibintangi Ramon Y Tungka yang menjadi film terbaik. Saya kaget karena saat itu masih sekedar "penikmat semu". Dan karena saat itu belum ada bioskop di Banjarmasin, dan saya sudah beli kasetnya, dan menurut saya film itu sudah sangat layak jadi film terbaik. Sekali lagi, itu cuma pendapat sementara. Mereka menuntut Ekskul karena ternyata film tersebut musiknya bukan hasil asli, tetapi ambilan dari musik luar, Jepang tepatnya. Beberapa minggu setelah itu, film Ekskul dicabut pemenangannya sebagai film terbaik.

Sejak saat itu, FFI mulai ketahuan bobroknya. Ternyata, sejak tahun 50an, piala citra sudah mulai bermasalah. Mungkin kalau pernah nonton film "Lewat Djam Malam" yang rilis tahun 1954, dan tahu bagaimana polemik pemenangan film itu, akan lebih paham dengan tulisan saya ini.

FFI tahun 2011 untuk film terbaik masih sedikit lebih bagus. Masih banyak insan perfilman yang menerima hasil penjurian FFI. Saat itu "Sang Penari", yang diangkat dari buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, menjadi film terbaik, dan menjadi debut pertama film panjang sutradara muda Ifa Isfansyah. Film ini juga yang mewakili Indonesia di piala Oscar nanti. Saat FFI yang baru saja diselenggarakan, saya sangat exited. Ternyata, acara molor. Kabarnya, itu karena menunggu kedatangan Aa Gatot Brajamusti. Sekilas, yang sering disapa Aa Gatot itu adalah ketua artis Indonesia. Setelah acara mulai, kesan yang saya lihat sangat diluar harapan. Entah karena acara yang outdoor, atau dari pihak EO, tapi apa yang saya lihat, benar-benar muram. Set pencahayaan panggung seperti seadanya. Malahan terkesan suram. Untuk pembacaan nominasi pun terkesan tergesa-gesa.

Sampai saat itu, yang dipikiran saya ini mungkin karena budget yang kurang. Yah, seperti yang kita tahu, kalau acara resmi dari pemerintah, uangnya kadang "parkir" kemana-mana. Iseng-iseng, saya buka twitter. Toh menurut saya iklannya juga lama, dan orang-orang film pasti "Hot" membahas FFI di twitter. Buka timeline, benar saja, sutradara Joko Anwar dan beberapa akun twitter membahas tentang FFI. Saat stalking timeline Joko, saya kembali terkejut. Yang mana mengira acara muram karena budget yang kurang, ternyata saya salah besar! Untuk acara itu, pemerintah sudah memberikan dana sebesar 16,2 miliar! Untuk perbandingan, penyelenggaraan FFI tahun 2011 cuma 800 juta. Info ini saya dapat dari Joko Anwar. Sampai saat itu, saya masih setia menonton acara itu, sambil sesekali membaca timeline. Selama acara berlangsung, paling sering film hasil kerjasama Aa Gatot dan Dedi Mizwar yang masuk nominasi. Film mereka berhasil mendapatkan 5 piala, termasuk menjadi film terbaik tahun ini. Dedi Mizwar termasuk jurinya. Untuk yang mau curiga, silahkan.

Banyak insan perfilman yang merasa kecewa. Bahkan, seorang Lukman Sardi, juga ikut berkomentar di twitter. Malahan beliau pakai hashtag di timelinenya. Beberapa twittnya yang saya ingat kurang lebih seperti ini "Sebelum membacakan nominasi, saya cuma di beri arahan sebentar." " Kami bingung, dunia kami kerja dipimpin seorang ahli spiritual (Aa Gatot) yang notabenenya orang baru didunia film". Aa Gatot memang dari awal terpilih sudah menuai masalah. Puncaknya, Joko Anwar, Aa Gatot, dan Lola Amaria diundang ke acara Mata Najwa. Disanalah Aa Gatot dicecer pertanyaan, mungkin menurut saya lebih tepatnya di beri "kuliah" oleh Joko Anwar. Dari perdebatan mereka, sangat nampak kalau Aa Gatot tidak faham film. Dan anehnya, beliau jadi produser di film yang banyak mendapat piala tadi. Yah, wajar saja banyak orang yang curiga. Toh dia juga saat menjelaskan bagaimana dia jadi produser sangat berbeda dengan bagaimana seharusnya apa kerja produser.

Wajar kalau insan perfilman risau. Dari segi acara sudah menimbulkan banyak kecurigaan. Baik itu dana, atau hasil penjurian. Mungkin mereka masih dapat sedikit rela tentang biaya tersebut, tapi penghargaan? Hasil penjurian?

Banyak film Indonesia yang mendapat penghargaan diluar negeri. Contohnya Lovely Man yang membuat Donny Damara menjadi aktor terbaik asia, mengalahkan Andy Lau. Film Modus Anomali yang menang INAFF di Korea. Film Postcard from The Zoo, Langit Biru, dan yang paling hot adalah The Raid. Itu tadi cuma beberapa contoh film tahun ini yang banjir penghargaan diluar, tapi surut di negeri sendiri. Entah kenapa banyak film yang mainstreem. Selera orang yang jelas-jelas bebas, menjadi semacam diarahkan dengan genre. Sekali film esek-esek hantu booming, langsung banyak film hantu esek-esek. Sekali film religi booming, langsung banyak bikin film religi. Gara-gara film asal-asalan, banyak penonton yang menganggap semua film Indonesia itu "sampah", sehingga istilah "Kamis Kebioskop" mulai hilang.

Banyak permasalahan yang terjadi didunia perfilman Indonesia.
Permasalahan yang mereka hadapi baik itu dari pihak bioskop yang kadang bisa tidak sampai 1 pekan film Indonesia diputar gara-gara film luar. Atau pemerintah yang terkesan tidak mendukung baik itu dari pra pembuatan film dan lain hal. Lebih lagi ajang penghargaan yang dapat dikatakan sudah tidak dapat dipercaya lagi. Padahal, bukan piala yang kata Aa Gatot sudah dilapis emas pakai uang dia pribadi yang mereka cari, tetapi penghargaan karya mereka, dan keadilan.

Walaupun saya bukan insan perfilman, tapi saya sering tukar pendapat dengan orang-orang yang paham film. Sudah hampir 3tahun saya aktif twitter. Disanalah banyak sharing tentang film dengan komunitas film, dan beberapa insan perfilman. Dan, untuk penghargaan film Indonesia, untungnya sudah mulai banyak inisiatif dari kaum muda. Contohnya Festival Film Bandung, dan lain-lain. Yang baru-baru ini adalah Piala Maya, yang dulu cuma ada di twitter, baru tahun ini diangkat ke dunia nyata, dan sukses.

Akan tetapi, saya tetap optimis dengan perfilman kita kedepannya. "Kamis Kebioskop" pasti akan ramai lagi. Filmaker muda dan berpendirian akan lahir. Suatu saat, film kita akan berjaya dinegeri sendiri. Bioskop-bioskop akan diisi film Indonesia yang berkualitas.

Ada kalimat yang selalu saya ingat saat berfikir buruk tentang film Indonesia. Kalimat yang dilontarkan oleh Erros Djarot, seorang sutradara film kenamaan Indonesia. Kata beliau "Film yang ditonton belum tentu bagus. Tapi, film bagus pasti ditonton"

Tetap cintai film Indonesia, dulu, kini, dan nanti.

Cari disini

logo blogger banua taken at randi azmi blog photo bloggerbanua_zpsc4d799fd.png
 photo logobloggeryeskompres.png
donor photo Reinhart-Blood-Drive.png

#Pengunjung

Instagram