Ikuti @fauzinesia

Ukhuwah Islamiah

Enonk Eno 1 6/27/2012
A. Pengertian
Menurut Al-’Allamah Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam Mufadrat Alfazhil Qur’an, kata ukhuwah menurut bahasa berasal dari ”akhun” yang berarti berserikat dengan yang lain karena kelahiran dari dua belah pihak, atau salah satunya atau karena persusuan. Sedangkan dalam istilah, menurut Imam Hasan Al-Banna rahimuhumullah, ukhuwah adalah mengikatnya hati-hati dan jiwa-jiwa dengan ikatan akidah, yang merupakan ikatan yang paling kukuh dan paling mahal harganya. Al-Banna mengatakan bahwa ukhuwah adalah saudara keimanan.
Menurut Koordinator Forum Musyawarah Ulama’ (FMU) Madura KH. Ali Karar Shinhaji, ukhuwah ialah ikatan atau jalinan persaudaraan. Ukhuwah yang sebenarnya ialah jalinan persaudaraan yang didasari dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ukhuwah seperti itu dikenal dengan ukhuwah islamiyah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat: 10 yang berbunyi:

. . . . . .
Artinya: ”orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara”
Dan dalam HR. Muslim dari Abdillah bin Umar ra. Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: “orang muslim ialah saudara bagi orang muslim“.

B. Keutamaan Ukhuwah
Ada beberapa keutamaan dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam, diantaranya:
1. Ukhuwah menciptakan wihdah (persatuan)
Sebagai contoh dapat kita lihat dalam kisah heroik perjuangan para pahlawan bangsa negeri yang bisa dijadikan landasan betapa ukhuwah benar-benar mampu mempersatukan para pejuang pada waktu itu. Tidak ada rasa sungkan untuk berjuang bersama, tidak terlihat lagi perbedaan suku, ras dan golongan, yang ada hanyalah keinginan bersama untuk merdeka dan kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan persatuan.
2. Ukhuwah menciptakan quwwah (kekuatan)
Adanya perasaan ukhuwah dapat menciptakan kekuatan (quwwah) karena rasa persaudaraan atau ikatan keimanan yang sudah ditanamkan dapat menentramkan dan menenangkan hati yang awalnya gentar menjadi tegar sehingga ukhuwah yang telah terjalin dapat menimbulkan kekuatan yang maha dahsyat.
3. Ukhuwah menciptakan mahabbah (cinta dan kasih sayang)
Sebuah kerelaan yang lahir dari rasa ukhuwah yang telah terpatri dengan baik pada akhirnya memunculkan rasa kasih sayang antar sesama saudara se-iman. Yang dulunya belum kenal sama sekali namun setelah dipersaudarakan semuanya dirasakan bersama. Inilah puncak tertinggi dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam.
C. Peran Ukhuwah dalam Islam
Ukhuwah membangun umat yang kokoh. Ia adalah bangunan maknawi yang mampu menyatukan masyarakat manapun. Ia lebih kuat dari bangunan materi, yang suatu saat bisa saja hancur diterpa badai atau ditelan masa. Sedangkan bangunan ukhuwah islamiah akan tetap kokoh. Ukhuwah merupakan karakteristik istimewa dari seorang mukmin yang saleh. Peran ukhuwah islamiyah sangatlah penting untuk terwujudnya umat islam yang utuh dan bersatu padu dalam kekompakan serta kebersamaan.
Nabi bersabda yang artinya: “perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling belas kasihan dan saling mengasihi yaitu seperti satu badan yang apabila satu anggotanya merasakan sakit maka anggota badan yang lain juga akan merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan panas“ (HR. Muslim dari An-Nu’man bin Basyir ra.)
Dan di hadits lain Nabi bersabda yang artinya: “seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seumpama bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain“ (HR. Muslim)
Saat ini ikatan agama telah pudar oleh kepentingan kekuasaan sehingga kewajibanpun telah terlupakan. Kehangatan persaudaraan semakin menipis karena desakan-desakan materialisme ataupun kepentingan primordialisme. Hal ini sering menimbulkan kecemburuan yang sangat potensial untuk mengundang suasana batin yang tidak menunjang tegaknya ukhuwah.
Ada beberapa amalan ringan yang dapat meningkatkan kecintaan kita kepada saudara kita demi mempertahankan peran ukhuwah dalam islam, di antaranya dengan:
 Mengucapkan salam tiap kali bertemu.
 Bermujamalah (berwajah ceria) ketika mendapat nikmat.
 Berta’ziah ketika ada yang mendapat musibah.
 Menjenguk orang sakit.
 Mendoakan orang bersin.
 Saling memberi hadiah.
Perpecahan dikalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S.49:10 dan 8 :1. Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah Islamiyah antara lain :
1. Melaksanakan proses Ta’aruf
Ta’aruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT . Adanya interaksi dapat membuat ukhuwah lebih solid dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya, Perpecahan mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran (Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan terhadap suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi dan diikuti, dan lain sebagainya. Pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses ukuhuwah islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.
ِيَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِير
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
2. Melaksanakan proses Tafahum
Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Saling memahami adalah kunci ukhuwah islamiyah. Tanpa tafahum maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses ta’aruf (pengenalan) dapat deprogram namun proses tafahum dapat dilakukan secara alami bersamaan dgn berjalannya ukhuwah. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengatahui kekuatan dan kelemahannya dan menerima perbedaan. Dari sini akan lahirlah ta’awun (saling tolong menolong) dalam persaudaraan. Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha memahami org lain. Saling memahami keadaan dilakukan dgn cara penyatuan hati, pikiran dan amal. Allah-lah yang menyatukan hati manusia.
3. Melakukan At-Ta’aawun
Bila saling memahami sudah lahir, maka timbullah rasa ta’awun. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan aman (saling bantu membantu). Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dan butuh bantuan orang lain. Kebersamaan akan bernilai bila kita mengadakan saling bantu membantu. Firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتُحِلُّوا شَعَائِرَ اللهِ وَلاَ الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلاَ الْهَدْىَ وَلاَ الْقَلاَئِدَ وَلآَءَآمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَئَانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Hai kehormatan bulan-bulan Haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) menggganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Rabbnya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorong kamu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Q.S. Al-Maidah: 2)
4. Melaksanakan proses Takaful
Rasa sedih dansenang diselesaikan bersama. Ketika ada saudara yang mempunyai masalah, maka kita ikut menanggung dan menyelesaikan masalahnya tersebut. Contoh mudah nya, ketika teman kita belum mampu membayar SPP bulan ini, maka kita menanggung biaya nya tersebut.
5. Melaksanakan Itsar
Itsar adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan para sahabat yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat kehausan dan memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga, namun setelah diberi, air itu diberikan lagi kepada sahabat yang lain, terus begitu hingga semua mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan dirinya (itsar). Inlah cirri utama dari ukhuwah islamiyah. Seperti sabda Nabi SAW: “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri”. (HR. Bukhari-Muslim).

D. Syarat dan Hak Ukhuwah
1. Hendaknya bersaudara untuk mencari keridhaan Allah, bukan kepentingan atau berbagai tujuan duniawi. Tujuannya ridha Allah, mengokohkan internal umat Islam, berdiri tegar di hadapan konspirasi pemikiran dan militer yang menghujam agama dan akidah umat. Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya..." (HR. Imam Bukhari).
2. Hendaknya saling tolong-menolong dalam keadaan suka dan duka, senang atau tidak, mudah maupun susah. Rasul bersabda, "Muslim adalah saudara muslim, ia tidak mendhaliminya dan tidak menghinanya... tidak boleh seorang muslim bermusuhan dengan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana yang satu berpaling dari yang lain, dan yang lain juga berpaling darinya. Maka yang terbaik dari mereka adalah yang memulai mengucapkan salam." (HR. Imam Muslim).
3. Memenuhi hak umum dalam ukhuwah Islamiah. Rasul bersabda, "Hak muslim atas muslim lainnya ada enam, yaitu jika berjumpa ia memberi salam, jika bersin ia mendoakannya, jika sakit ia menjenguknya, jika meninggal ia mengikuti jenazahnya, jika bersumpah ia melaksanakannya." (HR. Imam Muslim).

E. Perusak Ukhuwah
Setidaknya ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terjaga dan terpelihara sehingga kita bisa tetap menikmati indahnya persaudaraan, yaitu:
1. Memperolok-olokan baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan.
2. Mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar.
3. Memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu.
4. Berburuk sangka merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad) yang akibatnya akan selalu buruk sangka apabila seseorang mendapatkan kemikmatan atau keberhasilan.
5. Mencari-cari kesalahan orang lain untuk merendahkannya. Bukannya mencari kesalahn diri sendiri lebih baik agar kita bisan memperbaiki diri dari sebelumnya?
6. Bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka apabila ada orang lain yang mengtahuinya, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari penjelasan singkat di atas dapat kita simpulkan betapa pentingnya ukhuwah dalam mempertahankan dan menyatukan umat islam yang saat ini sudah mulai mengalami disintegrasi yang dilatar belakangi oleh berbagai perbedaan kepentingan terutama dalam dunia politik. Dengan ukhuwah kita bisa merasakan manisnya iman, berada di bawah naungan cinta Allah, dilindungi Arasy Al-Rahman, diampunkan dosa, bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan hamba dengan Allah dan menjadi ahli surga di akhirat kelak. Rasulullah Saw. Bersabda: Artinya: "Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, 'Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga." (HR. Imam Al-Tirmizi).

Riwayat Hidup KH. M. Hasyim Asy’ari

Enonk Eno Reply 6/27/2012


1.Biografi
Nama lengkap KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim yang mempunyai gelar Pangeran Bona ibn Abdur ar-Rohman yang dikenal dengan Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya ibn Abdullah Ibn Abdul Aziz ibn Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden Ainul Yaqin disebut Sunan Giri. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur pada hari Selasa kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan pada tanggal 14 Februari 1871. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 25 Juli 1947 pukul 03.45 dini hari bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan tahun 1366 dalam usia 79 tahun.
Pada masa muda KH. Hasyim Asy’ari, ada dua sistem pendidikan bagi penduduk pribumi Indonesia, Pertama adalah sistem pendidikan uyang disediakan untuk para santri muslim di pesantren yang focus pengejarannya adalah ilmu agama. Kedua adalah sistem pendidikan barat yang dikenalkan oleh kolonial Belanda dengan tujuan menyiapkan para siswa untuk menempati posisi-posisi administrasi pemerintahan baik tingkat rendah maupun menengah.
Semasa hidupnya, KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, Abd al-Wahid, terutama pendidikan di bidang Al-qur’an dan penguasaan beberapa literature keagamaan.Setelah itu ia pergi untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang meliputi Shona, Siwalan Baduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Sidoarjo. Setelah menimba ilmu di pondok pesantren Sidoarjo, ternyata KH. Hasyim Asy’ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya. Ia berguru kepada KH. Ya’kub yang merupakan kyai di pesantren tersebut. Kyai Ya’kub lambat laun merasakan kebaikan dan ketulusan KH. Hasyim Asy’ari sehingga kemudian ia menjodohkannya dengan putrinya, Khadijah. Tepat pada usia 21 tahun.
Setelah menikah, KH. Hasyim Asy’ari bersama istrinya Segera melakukan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, mertuanya menganjurkannya untuk menuntut ilmu di Makkah. Menuntut ilmu di kota mekkah sangat diidam-idamkan oleh kalangan santri saat itu, terutama dikalangan santri yang berasal dari Jawa, Madura,Sumatera dan kalimantan. Secara struktur sosial, seseorang yang mengikuti pendidikan di Makkah biasanya mendapat tempat lebih terhormat dibanding dengan orang yang belum pernah bermukim di Makkah, meski pengalaman kependidikannya masih dipertanyakan.
Dalam perjalanan pencarian ilmu pengetahuan di Makkah, KH.Hasyim Asy’ari bertemu dengan beberapa tokoh yang kemudian dijadikannya sebagai guru-gurunya dalam berbagai disiplin. Diantara guru-gurunya di Makkah yang terkenal adalah sebagai berikut. Pertama, Syaikh Mahfudh al-Tarmisi, seorang putera kyai Abdullah yang memimpin pesantren Tremas. Dikalangan kyai di Jawa, Syeikh mahfudh dikenal sebagai seorang ahli Hadist Bukhari. Kedua, Syaikh Ahmad Khatib dari Minangkabau. Syaikh Ahmad Khatib menjadi ulama bahkan sebagai guru besar yang cukup terkenal di Makkah, di samping menjadi salah seorang imam di Masjid al-Haram untuk para penganut Mazhab Syafi’i. Ketiga, KH. Hasyim Asy’ari berguru kepada sejumlah tokoh di Makkah, yakni Syaikh al-Allamah Abdul Hamid al-Darutsani dan Syaikh Muhammad Syuaib al-Maghribi. Selain iyu, ia berguru kepada Syaikh Ahmad Amin al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan al-Attar, Syaikh Sayid Yamay, Sayyid Alawi ibn Ahmad as-Saqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawy, Syaikh Shaleh Bafadhal dan Syaikh Sultan Hasyim Dagatsani.
Diantara ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh KH M. Hasyim Asy’ari selama di Makkah, adalah Fiqh, dengan konsentrasi mazhab Syafi’i, ulum al-Hadist, tauhid, tafsir, tasawuf, dan ilmu alat (nahwu, sharaf, mantiq, balaghah dan lain-lain). Dari beberapa disiplin ilmu itu, yang menarik perhatian beliau adalah disiplin hadist imam Muslim. Hal ini didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa untuk mendalami ilmu hukum Islam, disamping mempelajari al-Qur’an dan tafsirnya secara mendalam, juga harus memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai hadis dengan syarh dan hasyiyah-nya. Untuk itulah, disiplimn hadist menjadi yang sangat penting untuk dipelajari.
Perjalanan intelektal KH. Hasyim Asy’ari di Makkah berlangsung selama 7 tahun. Masa ini tampaknya telah membuat beliau memiliki kecakapan-kecakapan sendiri, terutama dalam pengetahuan keagamaan. Oleh karena itu, pada tahun 1900 M, beliau pulang kampung halamannya. Dalam catatan Zamarkhsyi Dhofier, setelah beberapa bulan kembali ke Jawa, beliau mengajar di pesantren Gedang, sebuah pesantren yang didirikan oleh kakeknya KH. Usman. Setelah mengajar di pesantren ini, ia membawa 28 orang santri untuk mendirikan pesantren baru dengan seizin kyainya.
Dengan dukungan itulah, diantaranya KH. Hasyim Asy’ari berpindah tempat dengan memilih daerah yang penuh tantangan yang dikenal dengan daerah ”hitam”. Tepat pada tanggal 26Rabiul Awwal 1320 H. Bertepatan dengan 6 Februari 1906 M, KH Hasyim Asy’ari mendirikan pondok pesantren Tebuireng. Di pesantren inilah banyak melakukan aktivitas-akivitas sosial-kemanusiaan sehingga ia tidak hanya berperan sebagai pimpinan pesantren secara formal, tetapi juga pemimpin kemasyarakan secara informal.
Sebagai pemimpin pesantren, beliau melakukan pengembangan instiusi pesantrenya, termasuk mengadakan pembaharuan sistem dan kurikulum. Jika pada saat itu pesantren hanya mengembangkan sistem halaqah, maka beliau mmperkenalkan sistem belajar madrasah dan memasukkan kurikulum pendidikan umum, disamping pendidikan keagamaan.
Aktifitas KH. Hasyim Asy’ari di bidang sosial yang lain adalah mendirikan organisasi Nahdhaul Ulama, bersama dengan ulama besar lainnya, seperti Syaikh Abdul Wahab da Syaikh Bishri Syansuri, pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H. Organisasi yang didirkannya ini memiliki tujuan untuk memperkokoh pengetahuan keagamaan di kalangan masyarakat, sebagaimana termaktub dalam Statuten Perkoempoelan Nahdlatoul-’Oelama,;. Fatsal 2.Adapoen maksoed perkoempoelan ini jaitoe:”memegang dengan tegoeh pada salah satoe dari mazhabnja Imam empat, jaitoe Imam Moehammad bin Idris asj-Sjafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Aboe Hanifah an-Noeman, atau Imam bin Hambal, dan mengejakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan Agama Islam”.
Organisasi Nahdlatul Ulama’ ini didukung oleh para ulama, terutama ulama Jawa dan komunitas pesantren. Memang pada awalnya, organisasi ini dikembangkan untuk meresponi wacana negara khilafah dan gerakan purifikasi yang dimotori oleh Rasyid Ridla di Mesir. Akan tetapi, pada perkembangannya kemudian organisasi itu melakukan rekontruksi social keagamaan yang lebih umum. Dewasa ini, Nahdlatul Ulama berkembang menjadi organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia.
KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H di kediaman beliau, yaiu Tebuireng Jombang, dan dimakamkan di Pesantren yang beliau bangun.
2. Karya Tulis KH. Hasyim Asy’ari
Sebagai seorang intelektual, KH Hasyim Asy’ari telah menyumbangkan banyak hal yang berharga bagi pengembangan peradaban , diantaranya adalah sejumlah literatur keagamaan dan sosial. Karya-karya tulis KH. Hasyim Asy’ari yang terkenal adalah sebagai berikut:
1. Adab al-alim wa al-muta’allim, yang menjelaskan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan etika orang yang menuntut ilmu dan seorang guru.
2. Ziyadat Ta’liqat, sebuah tanggapan atas pendapat Syaikh Abdullah bin Yasin Pasuruan yang berbeda pendapat tentang NU.
3. At Tanbihat al Wajibat Liman Yasna’ul al Maulid bi al Munkarat, yang menjelaskan tentang orang-orang yang mengadakan perayaan maulid nabi dengan kemungkaran.
4. Ar Risalah al Jami’ah, menjelaskan tentang keadaan orang yang meninggal dunia, tanda-tanda kiamat, serta ulasan tentang sunnah dan bid’ah.
5. Annur al Mubin fi Mahabbati Sayyid al Mursalin, menjelaskan tentang cinta kepada Rasul dan hal-hal yang berhubungan dengannya, menjadi pengikutnya dan menghidupkan tradisinya.
6. Ad Durar al Muntasirah fi al masail at Tis’a ’Asyarata, menjelaskan tentang persoalan tarekat, wali, dan hal-ha; penting lainnya yang terkait dengan keduanya atau pengikut tarekat.
B. Deskripsi Pemikiran Kependidikan KH.Hasyim Asy’ari
1. Masterpiece KH. Hasyim Asy’ari: Adab al-Alim
Karya kependidikan KH. Hasyim Asy’ari berjudul Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi. Karya ini selesai disusun oleh KH. M. Hasyim Asy’ari pada hari Ahad 2 Jumaday al-Tsani 1343 H. Beliau menulis kitab ini atas kesadaran akan perlunya literature yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang yang mencarinya harus memperlihatkan etika-etika yang luhur pula. Dalam hal ini, beliau tampaknya berkeinginan bahwa dalam melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan itu disertai oleh perilaku sosial yang santun (akhlakul karimah).
Bagi kalangan pesantren, kitab ini bukanlah literature baru yang mereka jumpai. Terutama di pesantren Jawa timur, kitab tersebut menjadi buku Dars yang selalu dikaji. Buku ini telah dicetak dalam jumlah yang relatif banyak untuk terbitan pertama di cetak tahun 1415 H. Oleh maktabah al-turats al-islamy pondok pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
2. Kandungan ‘Adab al-‘Alim
Kitab Adab al-alim wa al-muta’allim, secara keseluruhan terdiri dari 8 bab, yang berisi tentang:
a. Kelebihan ilmu dan ilmuwan.
Tujuan utama ilmu pengetahuan yang sesungguhnya adalah mengamalkan ilmu dalam tingkat lebih praktis, yakni dengan memanifestasikan dalam bentuk perbuatan. Perbuatan-perbuatan yang didasarkan atas ilmu pengetahuan akan memberi kemnfaatan tersendiri yang menjadi bekal dalam kehidupan di akhirat. Mengingat hal ini, syariat Islam mewajibkan umat Islam, dengan tidak membedakan jenis kelamin untuk menuntut ilmu pengetahuan. Menurut KH Hasyim Asy’ari dalam menuntut ilmu itu perlu diperhatikan dua hal, yakni: Pertama, Bagi murid hendaknya memiliki niat yang suci dan luhur, yakni semata-mata menuntut ilmu. Kedua, sebagaimana bagi murid, demikian juga bagi seorang guru/ulama yang mengajarkan ilmu hendaknya mempunyai niat yang lurus, tidak mengharapkan materi semata-mata. Selain itu, guru hendaknya menyesuaikan antara perkataan dengan perbuatan.
Mengenai kelebihan ilmuwan dengan orang awam, itu bagaikan bulan purnama dan cahaya bintang oleh karena itu, siapa saja yang mengusahakan mencari ilmu pengetahuan maka ia akan ditinggikan derajatnya.
b. Tugas dan tanggung jawab peserta didik
- Etika yang harus dicamkan dalam diri peserta didik
Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, ada sepuluh tuntunan etika yang perlu diperhatikan oleh peserta didik. Tuntunan itu adalah (1) membersihkan hati dari berbagai gangguan material keduniaan dan hal-hal yang merusak sistem kepercayaan; (2) membersihkan niat, dengan cara meyakini bahwa menunut ilmu hanya didedikasikan kepada Allah swt semata; (3) mempergunkan kesempatan belajar (waktu)dengan sebaiknya;(4) merasa cukup dengan apa yang ada dan menggunakan segala sesuatu yang lebih muda sehingga tidak merasa sulit; (5) pandai mengatur waktu; (6) tidak berlebihan dalam makan dan minum; (7) berusaha menjaga diri (wara’); (8) menghindarkan makan dan minum yang menyebabkan kemalasan dan kebodohan; (9) menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan; (10) meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.
- Etika seorang peserta didik terhadap Pendidik/guru
Menurut KH. Hasyim Asy’ari paling tidak ada 12 etika yang perlu dilakukan, yakni: (1) melakukan perenungan dan meminta petunjuk kepada Allah swt dalam memilih guru; (2) belajar sungguh-sungguh dengan menemui pendidik secara langsung, tidak hanya melalui tulisan-tulisannya semata; (3) mengikuti guru, terutama dalam kecerundungan pemikiran; (4) memuliakan guru; (5) memperhatikan hal-hal yang menjadi hak pendidik; (6) bersabar terhadap kekerasan pendidik; (7) berkunjung kepada guru pada tempatnya atau meminta izin terlebih dahulu; (8) menempati posisi duduk dengan rapih dan sopan bila berhadapan dengannya; (9) berbicara dengan halus dan lemah lembut; (10) menghafal dan memperhatikan fatwa hukum, nasihat, kisah, dari para guru; (11) jangan sekali-kali menyela ketika guru belum selesai menjelaskan; (12) menggunakan anggota badan yang kanan bila menyerahkan sesuatu kepada pendidik.
- Etika Peserta didik tehadap Pelajaran
Dalam pelajaran peserta didik hendaknya memperhatikan etika berikut; (1) mendahulukan ilmu yang bersifat Fardhu ain dari pada ilmu-ilmu yang lain;(2) harus mempelajari ilmu pendukung ilmu fardhu ’ain; (3) hati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama’; (4) mengulang dan menghafal bacaan-bacaan (menyetorkan) hasil bejalar kepada orang yang dipercayainya; (5) senantiasa menyimak dan menganalisa ilmu-ilmu pengetahuan, terutama ilmu hadist dan ilmu ushul Fiqh; (6) merencanakan cita-cita yang tinggi; (7) bergaul dengan guru dan teman, lebih-lebih kepada orang yang berilmu tinggi dan pintar; (8) mengucapkan salam bila sampai di majlis ta’lim/sekolah/madrasah;(9) bila menjumpai hal-hal yang belum dipahami maka hendaknya ditanyakan; (10) bila kebetulan bersamaan dengan banyak teman dengan kepentingan yang sama atau hendak menanyakan persoalan yang sama maka sebakiknya jangan mendahului anrtrian kecuali ada izin; (11) kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada jangan lupa membawa catatan; (12) mempelajari pelajaran yang telah diajarkan dengan kontinyu/istiqomah dan (13) menanamkan rasa antusias dan semangat untuk belajar.
3. Tugas dan tanggung jawab Pendidik
- Etika Pendidik terhadap dirinya
KH. M. Hasyim Asy’ari memberikan catatan bagi seorang pendidik agar dirinya tertanam atika-etika sebagai berikut; (1) beruasaha sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada Allah; (2) senaniasa takut kepada Allah; (3) bersikap tenang; (4) berhati-hati (wara’); (5) tidak mempunyai sikap tinggi hati tetapi tawadhu’; (6) konsentrasi(khusyu’); (7) mengadukan segala persoalannya kepada Allah swt; (8) tidak menggunakan ilmunya untuk meraih kepentingan duniawi semata; (9) tidak terlalu memanjakan anak didik; (10) membiasakan pola zuhud dalam kehidupan sehari-hari; (11) menghindari tempat-tempat bermaksiat; (12) menjauhi tempat-tempat yang mengurangi martabat guru; (13) memberi perhatian terhadap peradaban Islam dan realisasi syari’at; (14) mengamalkan sunnah nabi; (15) menjaga kebiasaan-kebiasaan keagamaan, seperti membaca al-Qur’an; (16) bersikap ramah, ceria dan suka memberi ucapan selamat (Salam); (17) membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah; (18) menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu pengetahuan; (19) tidak menyalahgunakan ilmu dengan cara menyombongkannya; (20) membiasakan diri menulis, mengarang, meringkas.
- Etika Pendidik terhadap Pelajaran
Seorang pendidik hendaknya memperhatikan etka-etika yang berkaitan dengan pelajaran. Diantara etika dalam konteks itu, menurut KH. M. Hasyim Asy’ari adala sebagai berikut; (1) mensucikan diri dari hadast dan kotoran; (2) menggunakan pakaian yang sopan, rapih dan usahakan memakai wangi-wangian; (3) ketika mengajarkan ilmu kepada peserta didik hendaknya berniat untuk beribadah; (4) menyampakan hal-hal yang diajarkan oleh Allah; (5) membiasakan membaca guna menambah ilmu pengetahuan; (6) memberi salam ketika masuk dalam ruangan; (7) bila mulai mengajar berdoalah terlebih dahulu untuk para ahli ilmu terdahulu; (8) berpenampilan yang kalem dan menjauhi hal-hal yang tidak pantas dipandang mata; (9) mengusahakan untuk menjauhkan diri dari bergurau dan banyak ketawa; (10) jangan sekali-kali mengajar ketika keadaan lapar, marah, mengantuk dan sebagainya; (11) pada waktu mengajar, hendaknya duduk di tempat yang strategis; (12) usahakan agar tampilannya ramah, lemah lembut, jelas, dan lugas serta tidak sombong; (13)dalam mengajar hendaknya mendahulukan materi yang paling penting dan sesuaikan dengan profesi yang dimiliki; (14) jangan sekali-kali mengajarkan hal-hal yang subhat yang bisa membinasakan; (15) memberi perhatian terhadap kemampuan masing-masing murid dalam mengajar dan mengajarnya itu tidak terlalu lama; (16) menciptakan ketenangan ruang belajar; (17) menasehati dan menegur dengan bak bila ada peserta didik yang bandel; (18) bersikaplah terbuka terhadapa berbagai macam persoalan yang ditemukan; (19) berilah kesempatan kepada peserta didik yang datangnya terlambat dan ulangilah penjelasannya agar tahu apa yang dimaksud; (20) bila sudah selesai berilah kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas/belum dipahami.
- Etika Pendidik terhadap Peserta didik
Diantara etika pendidik terhadap peserta didik adalah sebagai berikut; (1)berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at Islam; (2) guru hendaknya memiliki keihlasan dalam mengajar; (3) mencintai peserta didik sebagaimana mencinta dirinya sendiri; (4) memberi kemudahan dalam mengajar dan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami; (5) membangkitkan semangat peseta didik dengan jalan memotivasinya; (6) memberkan latihan-latihan yang bersifat membantu; (7) selalu memperhatikan kemampuan anak didik; (8) tidak menampakkan kelebihan sebagian peserta didik terhadap peserta didik yang lain; (9) mengerahkan minat anak didik; (10) bersikap terbuka dan lapang dada kepada peserta didik; (11) membantu memecahkan kesulitan anak didik; (12) bila ada anak didik yang berhalangan hadar hendaknya menanyakan hal itu kepada teman-temannya; (13) Tunjukkan sikap arif dan tawadhu’ ketika memberi bimbingan kepada peserta didik; (14) menghormati peserta didik dengan memanggil namanya yang baik.
- Etika Pendidik dan Peseta didik terhadap Buku
Sebagai seorang pendidik atau peserta didik yang senantiasa bergelut dengan buku, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut; (1) mengusahakan untuk mendapatkan buku-buku yang dibutuhkan; (2) mengizinkan bila ada kawan meminjam buku, bagi peminjam harus menjaga pinjamannya itu; (3) jira tulisan itu rusak atau tidak dipakai hendaknya tidak sembarangan membuang tulisan itu, tetapi meletakkannya pada tempat yang layak dan terhormat; (4) memeriksa terlebih dahulu bila membeli atau meminjam buku , khawatir ada yang kurang lembaranny; (5) bila menyalin buku pelajaran syari’ah hendaknya bersuci terlebih dahulu, menghadap kiblat, memakai pakian yang bersih dan wangi, dan mengawalinya dengan tulisan basmalah. Bila yang disalinnya adalah buku-buku nasehat atau semacamnya, maka mulailah dengan Hamdalah (pepujian) dan shalawat nabi setelah menulih bismillah terlebih dahulu.
C. Analisis Pemikiran Kependidikan KH. M. Hasyim Asy’ari
Karakteristik pemikiran pendidikan Islam yang berkembang sejak masa awal Islam hingga sekarang sangat beragam. Keberagaman ini dipengaruhi oleh kontruk sosial, politik dan keagamaan yang berkembang sehingga antara ciri khas sebuah pemikiran atau literature dengan keadaan sosial ketika iu memiliki korelasi yang signifikan. Namun demikian menurut Hasan Langgung, tokoh kependidikan kontemporer pada dasarnya literatur kependidikan Islam itu digolongkan ke beberapa corak. Pertama, corak pemikiran pendidikan yang awalnya adalah sajian dalam spesifikasi fiqh, tafsir, dan hadist kemudian mendapatkan perhatian tersendiri dengan mengembangkan aspek-aspek pendidikan. Model ini diwakili oleh Ibn Hazm (384-456 H). Kedua, corak pemikiran pendidikan yang bermuatan sastera. Contohnya adalah Abdullah bin al-Muqaffa’ (106-142 H/724-759M). Ketiga, corak pemikiran pendidikan Islam filosofis. Sebagai contohnya adalah corak kependidikan yang dikembangkan oleh aliran Mu’tazilah, ikhwah al-Shafa dan para filosof. Keempat, Pemikiran pendidikan Islam yang bediri sendiri dan berlainan dari beberapa corak diatas, tetapi ia tetap berpegang teguh pada semangat al-Qur’andan al-Hadist. Jika mengacu pada klasifikasi Hasan Langgulung di atas maka tampaknya Adab al-Alim wa al-Muta’allim dapat digolongkan pada corak yang terakhir. Hal ini didasarkan atas kandungan dalam kitab-kitab tersebut tidak memuat kajian-kajian dalam spesifikasi fiqh, sastera, dan filasafat. Adab ’al-Alim semata-mata memberi petunjuk praktis bagi siapa saja yang terlibat dalam proses pendidikan, sebagaimana yang dikemukakan oleh KH. M. Hasyim Asy’ari tentang latar belakang penulisannya.
Selain itu, Adab ’al-Alim mempunyai banyak kesamaan dengan Ta’lim al-Muta’allim karya al-Zarnuji. Disisi lain, karakter pemikiran kependidikan KH. M. Hasyim Asy’ari dapat dimasukkan kedalam garis mazhab Syafi’iyyah. Bukti kuat menunjukkan hal itu adalah beliau sering mengutip tokoh-tokoh syafi’iyyah, termasuk Imam al-Syafi’i sendiri ketimbang tokoh mazhab yang lain.
Kecerendungnan lain dalam pemikiran KH. Hasyim Asy’ari adalah mengetengahkan nilai-nilai estetika yang bernafaskan sufistik. Untuk sekedar meyakinkan hal itu dapat dikemukakan bahwa bagi beliau keutamaan ilmu yang sangat isitimewa adalah bagi orang yang benar-benar lillahi ta’alaa. Kemudian ilmu dapat diraih jika jiwa seseorang yang mencari ilmu tersebut suci dan bersih dari aspek sifat yang jahat dan aspek-aspek keduniawian. Bagi KH. M. Hasyim Asy’ari ilmu pengetahuan iu lebih ditekankan pada klasifikasi ’lm fardlu ain, yang menurutnya terbagi ke dalam empat macam. Pertama, ilmu pengetahuan dzatiyyah ketuhanan, yakni suatu ilu pengetahuan yang mampu meyakinkan bahwa Allah itu ada (maujud). Kedua, ilmu pengetahuan Shifatiyyah ketuhanan, yakni suatu ilmu pengetahuan yang mampu meyakinkan bahwa Allah itu berkuasa (qudrah). Ketiga, ilmu pengetahuan fiqh, yaitu ilmu pengetahuan yang mampu memberi pemahaman tentang cara ibadah secara eksoterik. Keempat, ilmu ’Ahwal dan Maqamat serta ilmu tentang kondisi jiwa. Ilmu terakhir agaknya lebih merujuk pada ilmu tasawuf.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
1. Nama lengkap KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim.
2. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur pada hari Selasa kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan pada tanggal 14 Februari 1871. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 25 Juli 1947 pukul 03.45 dini hari bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan tahun 1366 dalam usia 79 tahun.
3. Konsep Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari terdapat dalam buku Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi.
4. Konsep Pendidikan beliau yang terdapat dalam kitab Adab al-alim wa al-muta’allim yang terdiri dari 8 bab yang berisi tentang, Kelebihan ilmu dan ilmuwan, etika yang harus dicamkan dalam diri peserta didik, etika seorang peseta didik terhadap pendidik, etika seorang peseta didik terhadap pelajaran, etika pendidik terhadap dirinya, etika pendidik terhadap pelajaran, etika pendidik terhadap peserta didik, etika pendidik dan peserta didik terhadap buku.
5. Jika mengacu pada klasifikasi Hasan Langgulung maka tampaknya Adab al-Alim wa al-Muta’allim dapat digolongkan pada pemikiran pendidikan Islam yang bediri sendiri dan berlainan dari beberapa corak yangl ain, tetapi ia tetap berpegang teguh pada semangat al-Qur’an dan al-Hadist.. Hal ini didasarkan atas kandungan dalam kitab-kitab tersebut tidak memuat kajian-kajian dalam spesifikasi fiqh, sastera, dan filasafat. Adab ’al-Alim semata-mata memberi petunjuk praktis bagi siapa saja yang terlibat dalam proses pendidikan.


Saran dan Harapan
Bagi Pendidik
Dengan mengetahui konsep pendidikan yang ditulis oleh KH. Hasyim Asi’ari, guru dapat menyampaikan materi dengan baik dan benar serta dengan atika yang sesuai bagi seorang guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Bagi Siswa
Konsep Pendidikan yang ditawarkan KH. Hasyim Asyari yang terdapat dalam buku Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi telah memberikan petunjuk bagi seorang guru dan murid. Dengan adanya buku tersebut dapat dijadikan pedoman siswa bagaimana etika seorang murid dalam menuntut ilmu Allah sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.


DAFTAR PUSTKA

M.Ag, Suwendi, 2005, Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari, Jakarta: LeKDis
Khuluq, Drs. Lathiful, 2008, Fajar Kebangunan Ulama-Biografi KH. Hasyim Asy’ari, Jogjakarta: PT. LkiS Pelangi Aksara, cet. Ke-III
Bakar Atjeh, Abu, 1975, Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim dan Karang Tersiar, Jakarta: Panitia Buku Peringatan KHA Wahid Hasyim
Asy’ari, KH.M. Hasyim, 2003, Menjadi Orang Pinter dan Bener (Adab al-Alim wa al-Muta’alim), Yogyakarta: CV. Qalam, cet. pertama

Riwayat Hidup KH. Ahmad Dahlan

Enonk Eno 1 6/27/2012
A.


Kyai Haji Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868. Ayahnya adalah Kyai Haji Abu Bakar, seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta pada masa itu. Ibunya adalah putri H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Yogyakarta pada masa itu. Nama kecil Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara. Dalam silsilahnya, ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa.
Semenjak kecil, Dahlan diasuh dan di didik sebagai putera kyai. Pendidikan dasarnya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji al-Quran, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dari ayahnya. Menjelang dewasa, ia mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu. Dengan begitu, tak heran jika dalam usia relatif muda, ia telah menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Ketajaman intelektualitasnya yang tinggi membuat Dahlan selalu merasa tidak puas dengan ilmu yang dipelajarinya dan terus berupaya untuk lebih mendalaminya.
Setelah beberapa waktu belajar dengan sejumlah guru, pada tahun 1890 Dahlan berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan studinya dan bermukim di sana selama setahun. Merasa tidak puas dengan hasil kunjungan yang pertama, maka pada tahun 1903, ia berangkat lagi ke Mekkah dan menetap selama dua tahun. Ketika mukim yang kedua kali ini, ia banyak bertemu dan melakukan muzakkarah dengan sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah. Pada saat itu pula, Dahlan mulai berkenalan dengan ide-ide pembaharuan yang dilakukan melalui penganalisaan kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, seperti Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abd al-Wahab, Jamal al Din al Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan lain sebagainya.
KH. Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 23 Pebruari 1923 M atau bertepatan dengan 7 Rajab 1340 H di Kauman Yogyakarta dalam usia 55 tahun.

B. Peran Muhammadiyah di Indonesia
Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Quran dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya.
Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta.
Perkumpulan Muhammadiyah berusaha mengembalikan ajaran Islam kepada sumber aslinya yaitu al-Quran dan Assunah, seperti yang diamanatkan oleh Rasulullah Saw. Itulah sebabnya tujuan perkumpulan ini meluaskan dan mempertinggi pendidikan agama Islam secara modern, serta memperteguh keyakinan tentang agama Islam, sehingga terwujudlah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Karena itu dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkannya, Muhammadiyah telah mendirikan sekolah-sekolah tersebar hampir di seluruh persada Nusantara ini. Sekolah-sekolah ini dikelola Muhammadiyah disamping mengutamakan pendidikan agama Islam, juga memberikan mata pelajaran umum sebagaimana halnya pendidikan yang dikelola oleh pemerintah.
Sementara itu usaha-usaha lain yang dilakukan adalah memperluas pengajian-pengajian, menyebarkan bacaan-bacaan agama, mendirikan mesjid-mesjid, madrasah dan sekolah-sekolah, pesantren dan lain-lain.
Muhammadiyah bukan hanya semata bergerak di bidang pengajaran, tapi juga lapangan-lapangan lain, terutama menyangkut sosial umat Islam. Sehubungan dengan itulah Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam
Muhammadiyah dalam melaksanakan dan memperjuangkan keyakinan dan cita-cita organisasinya berasaskan Islam. Menurut Muhammadiyah, bahwa dengan Islam bisa dijamin kebahagiaan yang hakiki hidup di dunia dan akhirat, material dan spiritual.
Atas dasar pendirian tersebut maka Muhammadiyah berjuang mewujudkan Syariat Islam dalam kehidupan perorangan, keluarga dan masyarakat. Segala yang dilakukan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kemasyarakatan, kerumahtanggaan, perekonomian dan sebagainya tak bisa dilepaskan dari usaha untuk melaksanakan ajaran Islam.
2. Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah
Untuk mewujudkan keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah yang berdasarkan Islam, yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar. Dakwah dilakukan menurut cara yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Dakwah Islam dilakukan dengan hikmah, kebijaksanaan, nasehat, ajakan dan jika perlu dilakukan dengan dialog.
3. Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid
Usaha-usaha yang dirintis dan dilaksanakan menunjukkan bahwa Muhammadiyah selalu berusaha memperbaharui dan meningkatkan pemahaman islam secara rasional, sehingga Islam lebih mudah diterima dan dihayati oleh segenap lapisan masyarakat.
Zaman selalu maju dan berubah, demikian pula manusia tak henti-hentinya mencari yang baru guna menyempurnakan hidupnya. Agama Islam diyakini ajarannya cocok untuk segala zaman, oleh karena itu memerlukan pembaharuan cara memahaminya. Di antara usaha yang dilakukan Muhammadiyah adalah melalui pendidikan dan tarjih, disamping Muktamar Muhammadiyah selalu berusaha mendapatkan cara-cara baru dalam melaksanakan ajaran Islam, sehingga bisa lebih dipahami dan diamalkan oleh ummat Islam Indonesia.
Tujuan yang dirumuskan tampaknya dari waktu ke waktu sering berbeda, namun pada esensinya maknanya tetap sama.
Pada waktu didirikan, rumusan tujuan Muhammadiyah adalah sebagai berikut :
1. Menyebarkan ajaran Nabi Muhammad Saw kepada penduduk Yogyakarta dan sekitarnya.
2. Memajukan agama Islam kepada anggota-anggotanya.
Setelah Muhammadiyah meluas ke luar daerah Yogyakarta, tujuan ini dirumuskan lagi menjadi :
1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Belanda.
2. Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang tidak bertentangan dengan agama Islam kepada masyarakat luas.
Selanjutnya pada zaman Jepang rumusan tujuan Muhammadiyah adalah :
1. Hendak menyiarkan agama Islam serta melatih hidup selaras dengan tuntutannya.
2. Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum.
3. Hendak memajukan pengetahuan dan perdamaian serta budi pekerti baik kepada anggota-anggotanya.
Sedang pada zaman kemerdekaan rumusan tujuan inipun kembali mengalami perubahan yaitu untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut, maka diadakan usaha-usaha :
1. Mengadakan dakwah
2. Memajukan pendidikan dan pengajaran
3. Menghidupsuburkan masyarakat tolong-menolong
4. Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf
5. Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda-pemuda supaya kelas menjadi orang Islam yang berarti
6. Berusaha kearah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.
7. Berusaha dengan segala kebijaksanaan, supaya kehendak dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat.
Demikian tujuan dan usaha dari perkumpulan Muhammadiyah, yang jelas sejak didirikan Muhammadiyah tidak memilih politik sebagai jalur kegiatannya. Tujuan yang mula-mula sebagaimana dikemukakan diatas adalah menyebarluaskan agama Islam, yang kemudian berkembang menjadi meluaskan pendidikan agama Islam dan memupuk perasaan agama para anggotanya. Jalan untuk mencapai tujuan tersebut ialah dengan mendirikan sekolah-sekolah di seluruh tanah air Indonesia.

C. Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan
1. Dasar dan fungsi lembaga pendidikan
Yang menjadi dasar pendidikan Muhammadiyah
a) Tajdid
Ialah kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk mengubah cara berpikir dan cara berbuat yang sudah terbiasa demi mencapai tujuan pendidikan.
b) Kemasyarakatan
Antara individu dan masyarakat supaya diciptakan suasana saling membutuhkan. Yang dituju ialah keselamatan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.



c) Aktivitas
Anak didik harus mengamalkan semua yang diketahuinya dan menjadikan pula aktivitas sendiri sebagai salah satu cara memperoleh pengetahuan yang baru.
d) Kreativitas
Yaitu si anak didik harus mempunyai kecakapan atau keterampilan dalam menentukan sikap yang sesuai dan menetapkan alat-alat yang tepat dalam menghadapi situasi-situasi baru.
e) Optimisme
Yaitu si anak didik harus yakin bahwa dengan keridhaan Tuhan, pendidikan anak dapat membawanya kepada hasil yang dicita-citakan, asal dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang menyimpang dari segala yang digariskan oleh agama Islam.
Sedangkan lembaga pendidikan berfungsi sebagai berikut :
a) Alat dakwah ke dalam dan ke luar anggota-anggota Muhammadiyah. Dengan kata lain, untuk seluruh anggota masyarakat.
b) Tempat pembibitan kader, yang dilaksanakan secara sistematis dan efektif, sesuai dengan kebutuhan Muhammadiyah khususnya, dan masyarakat Islam pada umumnya.
c) Gerak amal anggota, penyelenggara pendidikan diatur secara berkewajiban terhadap penyelenggaraan dan peningkatan pendidikan itu dan akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Muhammadiyah.
2. Penyelenggaraan Pendidikan
Sebagaimana dikemukakan terdahulu bahwa tujuan semula Muhammadiyah adalah untuk menyebarluaskan agama Islam yang kemudian berkembang menjadi meluaskan pendidikan agama Islam dan memupuk perasaan agama para anggotanya. Salah satu jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mendirikan sekolah di seluruh tanah air.
Tujuan pendidikannya ialah terwujudnya manusia muslim berakhlak, cakap, percaya kepada diri sendiri, berguru, bagi masyarakat dan negara.
Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat sekolah, serta tidak memisah-misahkan anatra pelajaran agama dan pelajaran umum. Dengan demikian diharapkan bangsa Indonesia dapat dididik menjadi bangsa yang utuh berkepribadian yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas dan agama yang mendalam. Dikarenakan rencana pelajaran sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak bertentangan dengan stelsel pengajaran pemerintah Hindia Belanda, maka cukup banyak sekolah-sekolah nya yang mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial. Padahal kita ketahui Belanda sangat ketat dalam mengawasi dan memberi izin kepada lembaga-lembaga pendidikan yang dilaksanakan penduduk pribumi, terlebih lagi yang bercorakkan agama Islam. Disinilah rupanya keberhasilan Muhammadiyah dalam menjalankan strategi pendidikannya.
Pada zaman pemerintah kolonial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah :
a) Sekolah umum
Taman Kanak-Kanak (Bustanul Athfal) Vervof School 2 tahun, Shakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, Mulo 3 tahun AMS 3 tahun dan HIK 3 tahun.
Pada sekolah-sekolah tersebut diajarkan pendidikan agama Islam sebanyak 4 jam pelajaran seminggu
b) Sekolah Agama
Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Mualimin/Mualimat 5 tahun, Kulliatul Muballigin (SPG Islam) 5 tahun.
Pada madrasah-madrasah ini diberikan mata pelajaran pengetahuan umum
Sekolah-sekolah tersebut ternyata mampu berjalan sebagai mana mestinya, oleh karena itu jika diperhatikan lebih jauh, maka pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah mempunyai andil yang sangat besar bagi bangsa dan negara, dan tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan diantaranya :
1) Menambah kesdaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran Islam
2) Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah ide-ide reformasi Islam secara luas disebarkan
3) Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern.
Selannjutnya pada zaman kemerdekaan, sekolah Muhammadiyah perkembanganya semakin pesat. Pada dasarnya ada empat jenis lembaga pendidikan yang dikembangkannya, yaitu :
a) Sekolah-sekolah umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu : SD, SMTP, SMTA, SPG, SMEA, SMKK dan sebagainya. Pada sekolah-sekolah ini diberikan pelajaran agama sebanyak 6 jam seminggu.
b) Madrasah-madrasah yang bernaung dibawah Departemen Agama yaitu : Madrasah Ibtidaiyah (MI), MTs dan Madrasah Aliyah (MA). Madrasah-madrasah ini setelah adanya SKB 3 Menteri tahun 1976 dan SKB 2 Menteri tahun 1984, mutu pengetahuan umumnya sederajat dengan pengetahuan sekolah umum yang sederajat, dalam hal ini MI = SD, MTs = SMTP, MA = SMTA.
c) Jenis sekolah atau madrasah khusus Muhammadiyah yaitu : Mualimin, Mualimat, sekolah tabligh dan Pondok Pesantren Muhammadiyah
d) Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Muhammadiyah sampai sekarang cukup banyak mengelola pendidikan tinggi baik umum ataupun agama. Untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah Umum dibawah pembinaan Kopertis (Depdikbud), dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Agama di bawah pembinaan Kopertais (Depag).
Barangkali apa yang dipaparkan diatas hanya sebagian kecil sebagaimana peran Muhammadiyah dibidang penyelenggaraan pendidikan, karena lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola Muhammadiyah dari waktu ke waktu kian bertambah dan berkembang
3. Strategi Pengembangan Pendidikan
Sebagaimana digambarkan diatas, bahwa kelahiran Muhammadiyah pada tahun 1912 M tidak bisa dipisahkan dari kondisi situasi sosial yang ada pada saat itu, diantaranya situasi keberagaman ummat, masalah kemiskinan, masalah pendidikan dan beberapa masalah lainnya. Situasi pendidikan Islam yang memprihatinkan dan bertentangan dengan sistem pendidikan penjajah yang dikembangkan di Indonesia, melatarbelakangi KH. Ahmad Dahlan untuk memperkenalkan metode baru sistem pendidikan Islam.
Sistem yang dikembangkan tersebut adalah sintesis antara sistem pendidikan islam tradisional yang berbasis di pesantren dengan sistem pendidikan modern, kolonial. Dan visi pendidikan yang ditawarkan ialah mencoba memadu aspek-aspek keagamaan semata yang dikembangkan dalam pendidikan islam, dengan yang bersifat duniawi (profene) dari sistem pendidikan sosial. Sedangkan tujuan akhir (the ultimate goal) atau yang hendak dicapai ialah untuk menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan umum yang memadai, atau sitilah yang trend sekarang “ulama intelek”.
Sikap Muhammadiyah yang mengambil jalan tengah dalam sistem pendidikannya, kendati pada satu sisi menimbulkan kesulitan, namun pada sisi lain sikap itu masih menguntungkan, karena sikap tersebut membawa pengaruh atau efek cukup luas pada perkembanganya kehidupan keagamaan di Indonesia, yakni menepis budaya “paternalistik kiai = santri” melahirkan paham persamaan manusia ata egaliter serta membawa nuansa baru perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Sehingga studi-studi tentang pembaharuan Islam di Indonesia dapat dianggap kurang valid, jika tanpa melibatkan Muhammadiyah sebagai objek kajian.
Memang pendidikan Muhammadiyah yang bersifat tengah-tengah, sangat penting peranannya untuk meraih perpaduan, atau rekonsiliasi antara Islam dan pemikiran Barat. Dan lulusannya dapat menjembatani kesenjangan antara kaum santri tradisional dan intelektual lulusan pendidikan Barat. Mereka sekrang tersebar pada berbagai posisi strategis di birokrasi pemerintahan, mereka juga memiliki komitmen emosional yang kuat dengan Muhammadiyah.
Sikap yang demikian, menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya, Muhammadiyah memang sengaja tidak memperhatikan sistem pendidikan pesantren. Karena beberapa catatan historis membuktikan, bahwa Muhammadiyah pernah merintis dan berhasil membangun pesantren.
4. Pesantren Muhammadiyah
Riwayat pesantren Muhammadiyah dapat ditelusuri jejak-jejak ketika pertama kali KH. Ahmad Dahlan mencoba mendirikan pesantren yang dinamakan dengan “pondok Muhammadiyah” pada tahun 1912.
Cikal bakal dari pesantren tersebut adalah lembaga pendidikan yang semula bernama “ Al Qismul Arga”. Lembaga pendidikan yang berkali-kali berganti nama tersebut, bentuk finalnya adalah sebagaimana yang disaksikan di Yogyakarta, yakni pondok Mualimin dan Mualimat.
Karel A. Steenbrink dalam bukunya “ Pesantren, Madrasah, dan Sekolah” juga mencatata bahwa pada tahun 1968, pimpinan Muhammadiyah di Yogyakarta mencoba membuat pola pendidikan baru yang dinamakan dengan “ Pendidikan Ulama Tarjih”. Usaha itu dimulai dengan membentu suatu kelompok dengan anggota paling banyak 25 orang. Kelompok ini selama tiga tahun secara tetap belajar pada seorang guru (kiai) seperti di pesantren. Waktu belajar dilaksanakan di sekitar waktu sholat, pelajaran diberikan tiap hari, kecuali hari Jumat, tidak mengenal hari libur dan tidak diberikan ijazah yang diakui pemerintah. Selama jam belajar para santri tidak duduk diatas bangku melainkan bersila diatas lantai. Pada tahun kedua diberikan pelajaran tambahan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Ilmu Pendidikan. Tiap hari Senin dan Kamis mereka diwajibkan berpuasa. Sekalipun pada awal pendidikan para peserta diwajibkan mengucapkan bai’at untuk mengikuti program itu selama 3 tahun, karena program ini dianggap agak berat, maka dari 25 peserta itu akhirnya tinggal 10 orang dan sesudah 2, 5 tahun kemudia tinggal 5 orang. Usaha itu akhirnya gagal dan dihentikan.
Usaha pendidikan pesantren ini oleh Steenbrink dinilai gagal dan sebagai usaha yang sia-sia, dan justru dengan ini Muhammadiyah dalam sistem pendidikan mengalami set back.
Untuk itu maka pengembangan pesantren Muhammadiyah yang diharapkan mampu menjadi basis lahirnya ulama-ulama Muhammadiyah perlu dipertimbangkan secara serius. Tetapi kenyataannya perkembangan pesantren Muhammadiyah ini memang tidak begitu pesat.
Demikianlah bagaimana perjuangan Muhammadiyah di bidang pendidikan khususnya, sehingga dewasa ini organisasi perserikatan Muhammadiyah tersebar ke seluruh pelosok tanah air, secara vertikal dan diorganisasikan dari tingkat pusat, wilayah, Daerah, Cabang dan Ranting.
Untuk menangani kegiatan yang beraneka ragam tersebut dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang bertugas membentuk Pimpinan Perserikatan menurut bidangnya masing-masing.
Kesatuan-ksatuan kerja ini berbentuk majelis-majelis, antara lain : Majelis Tarjih, Majelis Tabligh, Majelis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umat (PKU), Majelis Pustaka dan Majelis Bimbingan Pemuda.
Disamping hal-hal tersebut masih terdapat organisasi-organisasi otonom dibawah naungan Muhammadiyah seperti Aisyiyah (bagian wanita), Nasyiatul Aisyiyah (bagian putri-putrinya), Pemuda Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sedangkan dibidang kepanduan juga tidak ketinggalan, yaitu Hizbul Wathan.

D. Muhammadiyah di Kalimantan Selatan
Muhammadiyah di Kalimantan Selatan berdiri dimulai dari Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 1925 yang dipelopori H.M Japeri dan H. Usman Amin. Setelah Muhammadiyah berdiri di Alabio barulah menyebar keseluruh Kalimantan Selatan .
Kehadiran organisasi Muhammadiyah memberikan pengaruh dalam lapangan pendidikan, keagamaan, maupun sosial. Dalam lapangan keagamaan, sumbangan positif yang diberikan Muhammadiyah di Kalimantan Selatan adalah gerakan pemurnian ajaran Islam di TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat) dalam segala bentuk baik menyangkut aqidah maupun syariah.
Muhammadiyah melakukan penelitian soal-soal ibadah. Segala amal perbuatan yang dipandang ibadah oleh masyarakat diteliti dan dicari sumber hukum dan dasarnya, mengingat pada saaat itudalam masyarakat Islam di daerah ini terdapat perbuatan yang dianggap bid’ah seperti pembacaan syair maulid, manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani dan sebagainya.
Muhammadiyah juga mempelopori khutbah jum’at berbahasa melayu, menterjemahkan al-Quran, menyalin ayat dan hadits dalam ejaan latin, serta menerbitkan buku-buku pelajaran agama beraksara latin. Selain itu dilaksanakan juga sembahyang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha di tanah lapang dan menganjurkan kaum wanitanya untuk ikut ke tanah lapang dan melaksanakan takbiran sebagai upaya meningkatkan Syiar Islam.
Dalam lapangan sosial Muhammadiyah sangat menekankan amal-amal saleh, tidak hanya menyangkut kewajiban seperti shalat, puasa dan haji, tetapi juga ibadah sosial seperti mengintensifkan fungsi zakat, pendirian panti asuhan anak yatim seperti yang didirikan di alabio pada tanggal 1 Mei 1938 yang diketuai oleh H. Usman Amin. Lahirnya gerakan Muhammadiyah di bidang sosial, di sisi lain juga didorong oleh kegiatan misi dan zending Kristen yang mendirikan Rumah Sakit dan Poliklinik di tengah-tengah orang Islam. Oleh karena itu, pada hari Jumat oleh PKU Muhammadiyah didirikan sebuah Poliklinik Muhammadiyah di Banjarmasin dengan pelopornya Saleh Bal’ala, Ali Jagau, dan Bakri dengan dr. Sosodoro Jatikusumo sebagai dokternya. Masjid dan Mushalla Muhammadiyah se-Kalimantan Selatan ada 63 buah Masjid dan Mushalla 61 buah. Badan usaha yang dimiliki Muhammadiyah adalah koperasi 12 buah, rumah sakit 1 buah, BMT 2 buah, makbarah 2 buah dan tempat-tempat pendidikan (Sekolah, madrasah dan pondok pesantren), dan lain-lain.
Demikianlah tentang riwayat singkat KH. Ahmad Dahlan, peran Muhammadiyah dalam Pendidikan Islam di Indonesia, dan sekilas tentang Muhammadiyah di Kalimantan Selatan.





BAB III
PENUTUP


Simpulan
Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Quran dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912.
Tujuan perkumpulan ini meluaskan dan mempertinggi pendidikan agama Islam secara modern, serta memperteguh keyakinan tentang agama Islam, sehingga terwujudlah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkannya, Muhammadiyah telah mendirikan sekolah-sekolah tersebar hampir di seluruh persada Nusantara. Sekolah-sekolah ini dikelola Muhammadiyah disamping mengutamakan pendidikan agama Islam, juga memberikan mata pelajaran umum sebagaimana halnya pendidikan yang dikelola oleh pemerintah. Muhammadiyah bukan hanya semata bergerak di bidang pengajaran, tapi juga lapangan-lapangan lain, terutama menyangkut sosial umat Islam. Di antara usaha yang dilakukan Muhammadiyah adalah melalui pendidikan dan tarjih, disamping Muktamar Muhammadiyah selalu berusaha mendapatkan cara-cara baru dalam melaksanakan ajaran Islam, sehingga bisa lebih dipahami dan diamalkan oleh ummat Islam Indonesia.
Kehadiran organisasi Muhammadiyah di Kalimantan Selatan memberikan pengaruh dalam lapangan pendidikan, keagamaan, maupun sosial. Dalam lapangan keagamaan, sumbangan positif yang diberikan Muhammadiyah di Kalimantan Selatan adalah gerakan pemurnian ajaran Islam di TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat) dalam segala bentuk baik menyangkut aqidah maupun syariah.



DAFTAR PUSTAKA



Basri, Hasan. Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2009

Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 1995

Ramayulis dan Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Kalam Mulia, 2009

Syahriansyah. Sejarah Muhammadiyah di Kalimantan Selatan (1925-2007), Banjarmasin, Antasari Press, 2011

http://adji-anginkilat.blogspot.com/2010/10/tokoh-pemikir-pendidikan-islam-kh-ahmad.html

Masuk dan Berkembangnya Islam Masa Permulaan

Enonk Eno Reply 6/27/2012
A.


Sejarah membuktikan bahwa islam telah masuk ke indonesia pada abad ke-7M/IH. Tetapi baru meluas pada abad ke 13M. Peruasan islam ditandai berdirinya kerajaan islam tertua di Indonesia, seperti perlak dan samudra pasai di aceh pada tahun 1292 dan tahun 1297. Melalui pusat-pusat perdadangan didaerah pantai sumatra utara dan melalui urat nadi perdagangan di malaka, agama islam kemudian menyebar ke pulau jawa dan seterusnya ke indonesia bagian timur. Walaupun disana ada peperangan, tetapi islam masuk ke indonesia, dan peralihan dari agama Hindu ke Islam, secara umum berlangsung secara damai.
Masuknya islam ke indonesia ada beberapa pendapat yaitu;
Ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya pada abad I H atau VII M. Islam telah masuk ke indonesia melalui saudagar- saudagar Arab yang berdagang di Tiongkok. Dari tanah Arab para saudagar itu menuju ke Tiongkok melalui route; Arab- Malabar- Nicobar- Aceh (pasai di Aceh Utara dan Perlak di Aceh Timur-Malaya- Kamboja- Daratan Tiongkok).
Pendapat ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa pada abad ke II Hijrah di Tiongkok telah terdapat gedung- gedung barang ekspor import milik orang- orang islam. Gudang ini terletak di pantai timur daratan Tiongkok.
Adapun pendapat lain, bahwa secara resmi islam masuk ke wilayah indonesia adalah melalui sumatra utara yaitu daerah aceh pada pertengahan abad XII M/ VII H. Pendapat inilah yang banyak diikuti oleh banyak orang, sebab mempunyai beberapa argomentasi yang cukup kuat yaitu;
1. Dalam sejarah’’ Melayu’’ disebutkan bahwa pada pertengahan abad ke XII M, datanglah muballigh Arab ke Aceh kurang lebih 1151 M. Abdul Arief namnya, dalam waktu singkat telah memiliki murid- murid yang kemudian menyebar-luaskan islam ke daerah-daerah di Sumatra.
2. Dalam sejarah aceh, tercatat nama Raja Johan Syah yang di maklumkan secara resmi sebagai sultan aceh yang muslim pada tahun 1205M. Wilayah kerajaannya sampai kesemananjung Tanah Melayu.
3. Pada tahun 1297 M. Tercatat nama sultan Aceh yakni Malik al- Saleh, sebagaimana yang tertera dalam nisannya.
B. Kerajaan- kerajaan Islam Pertama di Sumatera
a. Kerajaan Samudera Pasai
Para ahli sependapat bahwa agama islam sudah masuk ke indonesia (khususnya sumatra) sejak abad ke-7 atau 8 M, meskipun ketentuan tentang tahunnya secara pasti terdapat sedikit perbedaan.
Kerajaan islam di indonesia yang pertama adalah samudera pasai yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya al-Malik Ibrahim bin Mahdun. Tapi catatan lain ada yang mengatakan bahwa kerajaan islam pertama di indonesia adalah kerajaan Perlak. Hal ini di kuatkan oleh Yusuf Abdullah Puar, dengan mengutip pendapat seorang pakar sejarah Dr. NA.Baloch dalam bukunya ‘’Advend Of Islam in Indonesia’’. Tapi sayang sekali bukti- bukti kuat yang mendukung fakta sejarah ini tidak banyak ditemukan, terutama menyangkut referensi yang mengarah ke arah itu.
Menurut sumber-sumber bahwa islam sudah berkembang sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Maroko, yaitu; menurut sumber Cina, pada awal tahun 1282 M kerajaan kecil Samudera mengirim kepada raja Cina duta- duta yang yang disebut dengan nama- nama muslim yakni Husein dan Sulaiman. Dan menurut Ibn Batutah bahwa islam sudah hampir satu abad lamanya disiarkan disana. Ia meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat keagamaan keagamaan Rajanya yang seperti rakyatnya, mengikuti mazhab Syafi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan samudera pasai ketika itu merupakan pusat stadi agama islam dan tempat berkumpul ulama- ulama dari berbagai negeri islam untuk berdikusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan.
b. Kerajaan Aceh Darussalam (1511- 1874) Ketika Kerajaan Islam Pasai mengalami kemunduran, di Malaka berdiri sebuah kerajaan yang diperintah olah sultan Muhammad Syah. Namun kerajaan inipun tidak bisa bertahan lama, setelah mengalami keemasan yaitu ketika sultan Muszaffar Syah (1450) memerintah.Sesudah itu terus mengalami kemunduran. Ia tidak mampu menguasai pengaruh dari luar terutama yang berada di Aceh. Maka sejak itulah Kesultanan di Aceh mulai berkembang.
Kerajaan Aceh Darussalam yang diproglamasikan pada tanggal 12 Zulkaedah 916 H (1511M) abad yang lalu, yang berlandaskan pendidikan islam dan ilmu pengetahuan. Sejak pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan serjana- serjananya yang terkenal di dalam dan di luar negeri, sehingga banyaklah orang luar yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu. Bahkan Ibukota Kerajaan Aceh Darussalam terus berkembang menjadi kota Internasional dan menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Menurut H.J. de Graaf, Aceh menerima islam dari pasai yang kini menjadi bagian daerah aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14. Menurutnya, kerajaan aceh merupakan penyatuan dari dua kerajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Ia juga berpendapat bahwa rajanya yang pertama adalah Ali Mughayat Syah.
C. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa
1. Kerajaan Demak
Salah seorang raja Majapahit bernama Sri Kertabumi mempunyai istri yang beragama islam yang bernama Putri Cempak. Kejadian tersebut tampaknya sangat besar pengaruhnya terutama dalam rangka dakwah islam. Dari putri Cempa inilah lahir seorang putra yang bernama Raden Fatah, yang kemudian kita ketahui menjadi Raja Islam pertama di jawa (Demak). Para ahli berpendapat bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478 M. Adapun yang berpendapat, bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1518 M. Hal ini berdasarkan, bahwa pada tahun tersebut merupakan tahun berakhirnya masa pemerintahan Prabu Udara Brawijaya VII yang mendapat serbuan tentara Raden Fatah dari Demak. Kerajaan ini berdiri atas prakarsa dari para wali, dimana mereka sepakat untul memilih demak sebagai pusat kegiatan islam.
Kehadiran kerajaan Islam Demak dipandang oleh rakyat Majapahit sebagai cahaya baru yang membawa harapan. Kerajaan islam itu diharapkan sebagai kekuatan baru yang akan menghalau segala bentuk penderitaan lahir batin dan mendatangkan kesejahteraan. Raja Majapahit sudah kenal islam jauh sebelum kerajaan Demak berdiri. Bahkan keluarga raja Brawijaya sendiri kenal islam melalui putri Cempa yang selalu bersikap ramah dan damai.
Dengan berdirinya Kerajaan Islam Demak yang merupakan Kerajaan Islam pertama di Jawa tersebut, maka penyiaran agama Islam makin meluas, pendidikan dan pengajaran Islam pun bertambah maju.
Pelaksanaan Pendidikan Islam di Kerajaan Demak
Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islan di Demak punya kemiripan dengan yang dilaksanakan di Aceh, yaitu dengan mendirikan mesjid tempat-tempat yang menjadi sentral di suatu daerah, di sana diajarkan pendidikan agama di bawah pimpinan seorang Badal untuk menjadi seorang guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama islam.
Memang antara kerajaan Demak dengan wali-wali yang sembilan atau Walisongo terjalin hubungan yang bersifat khusus, yang boleh dikatakan semacam timbal-balik, da mana sangatlah besar peranan walisongo di bidang dakwah Islam, dan juga Raden Fatah sendiri menjadi raja adalah atas keputusan para Wali dan dalam hal ini para wali tersebut juga sebagai penasehat dan pembantu raja.
2. Kerajaan Pajang
Sultan atau Raja pertama kesultanan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, dilereng Gunung Merapi. Oleh raja Demak ketiga, Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa di Pajang, setelah sebelumnya dikawinkan dengan anak perempuannya.
Pada tahun 1546, sultan demak meninggal dunia. Setelah itu kerajaan diperintah oleh sultan Adiwijaya. Pada masanya sejarah islam di jawa mulai dalam bentuk baru, titik politik pindah dari posisir (Demak) ke pedalaman.
Sultan Adiwijaya memperluas kekuasaannya di tanah pedalaman ke arah timur daerah medium, dialiran anak sungai bengawan solo yang terbesar. Setelah itu secara berturut-turut ia dapat menundukkan Blora(1554) dan Kediri (1577). Pada tahun 1581, ia berhasil mendapatkan pengakuan sebagai sultan islan dari raja- raja terpenting di jawa-jawa.
3. Kerajaan Islam Mataram (1575-1757)
Kerajaan Demak ternyata tidak bertahan lama, pada tahun 1568 M terjadi perpindahan kekuasaan dari Demak ke pajang. Namun adanya perpindahan ini tidak menyebabkan terjadinya perubahan yang berarti terhadap sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang sudah berjalan.
Pelaksanaan Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam
Pada zaman kerajaan ini,anak usia sekolah sudah diwajibkan belajar pada tempat- tempat pengkajian kitab-kitab, bagi murid- murid yang telah khatam al-Qur’an. Tempat pengkajiannya disebut posantren. Para santri harus tinggal di asrama yang disebut pondok, di dekat poisantren tersebut.
Kitab- kitab yang diajarkan pada posantren besar itu ialah kitab- kitab besar dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa daerah dan dilakukan secara halaqah. Bermacam- macam agama telah diajarkan seperti; fiqh, tafsir, hadist, ilmu kalam, tasawuf, dan sebagainya.
4. Kerajaan Cirebon
Kesultan cirebon adalah kerajaan islam pertama jawa barat. Kerajaan ini didikan olah sunan Gunung Jati. Diawal abad ke-16, cirebon merupakan sebuah daerah kecil dibawah kekuasaan pakuan pejajaran. Raja pejajaran hanya menempatkan seorang juru pelabuan disana, bernama pangeran Walangsungsang, seorang tokoh yang mempunyai hubungan darah dengan raja pejajaran. Ketika berhasil memajukan cirebon, ia sudah berhasil menganut agama islam.
Sebagai keponakan dari pangeran walangsungsang, sunan gunung jati juga mempunyai hubungan darah dengan raja pejajaran yaitu Prabu Siliwangi, raja sunda yang berkedudukan di pakuan pejajaran, yang nikah dengan Nyi Lara Santang tahun 1422. Dari perkawinannya itu lahirlah 3 orang putra, masing- masing raden walangsungsang, nyi lara satang dan raja sengara. Sunan gunung jati adalah putra dari nyai lara santang dari perkawinannya dengan maulana sultan mahmud dari bani hasyim.
Sunan gunung jati lahir tahun 1448 M dan wafat tahun 1568 M dalam usia 120 tahun. Karena kedudukannya sebagai wali songo, ia mendapat kehormatan dari raja-raja lain di jawa, seperta demak dan pajang. Setelah cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan islam yang bebes dari kekuasaan pejajaran, sunan gunung jati berusaha meruntuhkan kerajaan pejajaran yang masih belum menganut agama islam.
Dari cirebon sunan gunung jati mengembangkan islam ke daerah- daerah lain di jawa barat seperti majalengka, kuningan, kawali(galuh), sunda kelapa, dan banten.
5. Kerajaan Banten
Sejak sebelum islam, ketika masihberada dibawah kekuasaan sunda, banten sudah menjadi kota yang berarti. Pada tahun 1524 atau 1525 M sunan gunung jati dari cirebon, meletakkan dasar bagi pengembangan agama dankerajaan islam serta bagi perdagangan orang- orang islam disana.
Menurut sumber tradisional, penguasa pejajaran di banten menerima sunan gunung jati dengan ramah tamah dan tertarik masuk islam. Ia meratakan jalan bagi kegiatan pengislaman disana. Dengan segara ia menjadi orang yang berkuasa atas kota itu dengan bantuan tentara jawa yang memang dimintanya. Namun menurut berita, penyebaran islam dijawa barat tidak melalui jalan damai. Beberapa pengislaman mungkin terjadi secara sukarela, tetapi kekuasaan tidak diperoleh kecuali dengan menggunakan kekerasan.
Pada tahun 1568, kekuasaan demak diserahkan kepada putranya, Hasanuddin, saat itu kekuasaan demak beralih ke pajang, Hasanuddin memerdekakan banten. Itulah sebabnya oleh tradisi ia dianggap sebagai raja islam yang pertama di banten. Hasanuddin mangkat kira- kira tahun 1570 dan di ganti oleh anaknya Yusuf.
D. Kerajaan Islam Sulawesi
Di sulawesi ada beberapa kerajaan yaitu diantara kerajaan Bone, Gowa dan Tallo. Kerajaan yang pertama menerima islam sebagai agama resmibadalah Gowa dan Tallo. Raja Tallo yang pertama adalah l Mallingkang Deang Manyoari yang terkenal dengan nama sultan Abdullah Awwalul Islam. Kerajaan Gowa dan Tallo adalah merupakan kerajaan yang kembar dan kemudian menjadi nama kerajaan Gowa- Tallo.
Oleh karena itu sultan Abdullah Awwalul Islam, disamping sebagai sultan di Tallo beliau juga menjabat sebagai Mangkubumi kerajaan Gowa. Pada saat itu Gowa diperintah raja l Manggereng Daeng Maurabbia yang telah memeluk agama Islam dan berganti nama sultan Alauddin. Kerajaan Gowa- Tallomenerima islam pada tahun 1605 M dan setahun kemudian hampir seluruh rakyat Gowa- Tallo memeluk agama islam.
Mubaliqh yang berjasa dalam penyebaran islam didaerah itu adalah Abdul Qadir Khatib Tunggal yang berasal dari minangkabau. Raja Gowa-Tallo yang sangat besar pula peranannya dalam penyebaran agama islam, sehingga bukan hanya rakyatnya saja yang memeluk islam, melainkan kerajaan- kerajaan islan disekitar Gowa- Tallo telah banyak yang masuk islam pula. Setelah itu barulah kerajaan Bone serta rakyat yang berada dikerajaan Soppeng, Sidenteng dan Wajo.
E. Kerajaan- kerajaan Islam di Kalimantan
Kerajaan Demak memegang peranan penting dalam memasukkan islam ke kalimantan, dan mulai berkembang setelah berdirinya kerajaan islam dibanjarmasin dibawah pimpinan Sultan Suriansyah. Sebagai kerajaan islam yang pertama, maka perkembangan islam makin maju, masjid- masjid dibangun hampir disetiap desa.
Perkembangan yang sangat menggembirakan, pada tahun 1710 M (tepatnya 13 syafar 1122 H) di zaman kerajaan islam Banjar ke-7 dibawah pemerintahan sultan Tahmilillah (1700- 1748) telah lahir seorang ulama terkenal kemudiannya yaitu Syekh Muhammad Arsyad al Banjary didesa Kalampayan Martapura. Sejak kecil beliau diasuh oleh Sultan Tahmilillah, beliau berstudi di Mekkah sekitar 30 tahun, sehingga beliau terkenal dengan keulamaannya dan kedalaman ilmunya, tidak saja terkenal dikalimantan tapi sampai ke luar negeri, khususnya kawasan asia tenggara.
Syekh Muhammad Arsyad banyak mengarang kitab- kitab agama, diantaranya yang terkenal adalah Kitab Sabilal Muhtadin. Sultan Tahmilillah mengangkat beliau sebagai Mifti besar kerajaan Banjar. Beliau juga mendirikan pondok posantren dikampung dalam pagar, yang sampai sekarang masih terkenal sebutan posantren Darussalam.
Dikalimantan Barat yaitu didaerah Sukanada sejak tahun 1550 M telah berdiri kerajaan islan dan yang menjadi raja adalah orang yang berasal dari jawa. Jadi hal ini merupakan indikasi bahwa sebelum tahun 1550 didaerah kalimantan barat sudah banyak rakyat memeluk agama islam. Adapun sultan yang pertama di sukanada adalah Penembahan Giri Kusuma (1591 M). Sedang sultan Sukanada yang kedua adalah Muhammad Safiuddin (1677 M).


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Islam masuk ke indonesia pada abad I H atau VII M melalui saudagar- saudagar Arab yang berdagang di Tiongkok melalui Rote: Arab- Malabar- Nikobar- Aceh(pasai di aceh utara dan perlak di aceh timur- Malaya- Komboja- Daratan Tiongkok). Tetapi baru meluas pada abad ke-13 M. Perluasannya di tandai dengan berdirinya kerajaan islam tertua di indonesia, yaitu kerajaan samudera pasai dan kerajaan perlak pada tahun 1292 dan 1297.
Kerajaan- kerajaan yang ada di Indonesia di antaranya adalah
1. Kerajaan islam yang pertama di sumatera yaitu, samudera pasai dan perlak, kerajaan aceh darussalam
2. Kerajaan islam di pulau jawa yaitu, kerajaan demak, pajang, mataram, cirebon,dan banten
3. Kerajaan islam di sulawesi yaitu kerajaan gowa- tallo, bone, wajo,soppeng dan lawo
4. Kerajaan islam di kalimantan yaitu kerajaan banjar di kalimantan selatan, kerajaan kutai di kalimantan timur.


DAFTAR PUSTAKA
Yatim, Badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam, PT Raja Grapindo Persada, Jakarta
Hasbullah. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, PT Raja Grapindo Persada, Jakarta
Rasyidi, Badri. 1987. Sejarah peradaban Islam, CV. ARMIKO, Bandung

PERANAN PONDOK PESANTREN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Enonk Eno 1 6/27/2012


Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Di lembaga inilah diajarkan dan didikakan ilmu dan nilai-nilai agama kepada santri. Pada tahap awal pendidikan di pesantren tertuju semata-mata mengajarkan ilmu-ilmu saja lewat kitab-kitab klasik atau kitab kuning.
Ciri yang paling menonjol pada pesantren adalah pendidikan dan penenman nilai-nilai agama kepada para santri lewat kitab-kitab klasik, selanjutnya setelah masuknya ide-ide pembaruan pemikiran Islam ke Indonesia, turut seta terjadinya perubahan dalam bidang pendidikan. Pada mulanya pendidikan pesantren berorentasi kepada pemdalaman ilmu agama semata-mata.
A. PENGERTIAN, CIRI-CIRI, DAN UNSUR PESANTREN
Pengertian pesantren berasal dari kata santri, dangan awalan pe-dan akhiran-an berarti tempat tinggal santri. Soegarda Poerbakawatja juga menjelaskan pesantren berasal dari katasantri yaitu seseorang yang belajar agama Islam, sehingga dengan demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Ada juga yang mengartikan pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bersifat “tradisional” untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian.
Sesuai dengan arus dinamika zaman, defenisi serta persepsi terhadap pesantren manjadi berubah pula. Kalau pada tahap awalnya pesantren diberi makna dan pengertian sebagai lembaga pendidikan trasional, tetapi sekarang pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional tidak selamanya benar. Dan pola-pola pesantren yang akan dikemukakakn dalam uraian ini akan terlihat bahwa tidak selamanya pendidikan pesantren saat sekarang ini digolongkan kepada pendidikan tradisional. Namun secara umum perlu diberikan suatu keseragaman pengertian tentang pesantren, yang dapat disebutkan hanyalah unsure-unsur pokoknya saja.
Adapun pola-pola pesantren yang dikemukakan sebagai berikut:
1. Pola yang dimaksud dalam hal ini adalah pesantern yang masih terikat kuat dengan system pendidikan Islam sebelum zaman penbaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Cirri-ciri pesantren dalam pola satu tersebut pertama adalah pengakajian kitab-kitab klasik semata-mata. Dan kedua memakai metode sorongan, wetonan, dan hafalan didalam memakai system klasikal. Dan ketiga tidak system klasikal. Dan keempat, tujuan pendidikan untuk meningkatkan moral.
2. Pesantren adalah merupakan pengembangan dari pesantren pola satu.
3. Pesantren adalah yang didalamnya program keilmuan telah diupayakan menyeimbangkan antara ilmu agama dan umum.
4. Pesantren adalah yang mengutamakan pengajaran ilmu-ilmu keterampilan di sampingilmu-ilmu agama sebagai mata pelajaran pokok.
5. Pesantren adalah yang mengasuh beraneka ragam lembaga pendidikan yang tergolong formal dan nonformal.

B. TRADISI PESANTREN
Dalam tradisi pesantren ada beberapa tradisi yang terdapat:
1. Mempersempit Jurang Ketidakadilan
Tradisi pesantren berupaya memperdayakan dan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan di pesantrennya dengan mendirikan berbagai sekolah, madrasah dan perguruan tinggi pada semua jenjang dan jenis dalam lingkungan pesantren. Kecepatannya menambah jumlah pesantren dan fasilitas gedung-gedung bagi murid mencapai lebih dari 4.000 pada tahun 2008.
Ditengah berbagai kesulitan memerangi kemiskinan yang melilit bangsa Indonesia, pesantren muncul sebagai kekuatan tradisi bangsa yang selama 50 tahun tersimpan. Bila pengembangan intelektualitas dan kreatifitas dapat dimaksimalkan dan para pemegang kebijakkan jel melihat peluang, maka dari pedesaan akan muncul sumberdaya yang bisa memperbesar kemampuan dibidang perekonomian , sains dan teknologi serta pertahanan bagi kemajuan bangsa.
Jurang keadilan dan sejahteraan antara masyarakat perkotaan dan perdesaan selama 60 tahun terakhir terus melebar. Lembaga-lembaga pesantren yang memang berada di pedesaan melihat melebarnya ketimpanggan itu setiap hari.
2. Tradisi Pesantren dalam Sejarah Peradaban Indonesia
Peradaban Indonesia mederen yang sedang dibangun oleh bangsa Indonesia sekarang ini merupakan kelanjutan dari peradaban melayu nusantara yang terbangun antara tahun 1400 sampai tahun 1650. Ujung tombak pembangunan peradaban melayu nusantara adalah Tradisi Pesantren.
Dengan melemahnya Majapahit kekuatan politik nusantara berpindah ke Semenanjung Malaka. Penyebaran lembaga-lembaga pesantren meluas ke seluruh wilayah Indonesia sejak berkembangnya Kesultanan Malaka menjadi pusat perkembangan perdagangan Muslm di Asia Tenggara antara 1400 dan 1511. Pendiri Kesultan Malaka adalah Prameswara, menantu Hayam Wuruk yang meninggalkan pusat kerajaan Majapahit ke Malaka, 12 tahun setelah raja besar Majapahit meninggal pada tahun 1389.
C. GAMBARAN PESANTREN MINHAJUS SUNNAH MUNGKID JAWA TENGAH
a. Letak Geografis
Magelang adalah sebuah kota di propinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung di Utara, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali di Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta di Selatan, serta Kabupaten wonosobo dan Kabupaten Purworejo di Barat.
Pondok Pesantren Minhajus Sunnah berada di Kecamatan Mungid, tepatnya di Jalan Raya Magelang,- Yogyakarta Km. 13 Badekan – Pabelan – Mungkid – Magelang. Di Kabupaten Magelang tersebut terdapat 140 Pondok Peantren. Khusus di Kecamatan Mungkid tercatat 6 Pondok Pesantren dengan rincian 5 Pesantren Salaf dan 1 Pesantren Khalaf, dengan jumlah santri 1028 orang dan pengajar dan pengasuh.
b. Latar Belakang Pendirian Pesantren
Pondok Pesantern Minhajus Sunnah, berdiri pada tahun 1998. Pondok Pesantren tersebut berdiri diatas tanah wakaf, sebagai muwafiknya adalah Bapak Iskandar ( Abu Khalid). Awal mula berdirinya Pesantren Minhajus Sunnah, adalah kajian rutin keagamaan di rumah makan “Bu Dayah”, selama satu tahun lebih. Karena animo dari masyarakat sangat bagus, maka di butuhkan suatu pendidikan. Oleh karena itu didirikan Pesantren Minhajus Sunnah pada awal 1998.
Ada dua hal yang melatar belakangi berdirinya Pesantren Minhajus Sunnah. Pertama, untuk mengembangkan dan menyebarluaskan Agama Islam. Dan yang kedua, berusaha mengubah masyarakat dari kemaksiatan menuju jalan kebenaran yang sesuai dengan syariat Islam dan sekaligus menghidupkan paham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Pesantren Minhajus Sunnah pada dasarnya berbeda dengan pesantren pada umumnya yaitu sitem tradisional. System yang diterapkan Layamah, yaitu ada ustadz, ada pelajaran. Siapapun boleh belajar (nyantri) kapan saja, tanpa dibatasi tahundan ajaran baru. Sehingga banyak santri dating dari berbagai daerah mulai dari Aceh sampai Irian Jaya.
c. Perkembangan Pesantren
Pada masa awal berdirinya Pesantren Minhajus Sunnah adalah masa pembibitan sebagai wadah pembentukkan pendidikan Pesantren. Pemimpin pertama terddiri dari tiga orang yaitu Abu Muhammad Jamhari, Abu Umar dan Abu Khalid, beliau bertiga merupakan figure dalam perkembangan pesantren selanjutnya.
Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin kompleks, dan al-qur’an mulai ditinggalkan oleh generasi muda, pada tahun 2000 Pesantren Minhajus Sunnah mendirikan Madrasah Tahfidzul Qur’an khusus untuk anak-anak mulai usia 4-12 tahun yang diketuai oleh Ustadz Abu Hamzah Kaswa. Sampai sekarang madrasah ini telah berhasil mengtahfidzkan al-Qur’an sebanyak 7 santri. Kebanyakkan dari alumni MTQ ini, melanjutkan ke Pondok Pesantren lain untk pendalaman.
Materi pelajaran di Madrasah ini selain menghafal al-Qur’an juga ada pelajaran Diniyah: Akidah, Akhlak, Ibadah, Fiqih dan Sirah. Disamping itu juga diberi pelajaran umum juga meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS.
d. Kepemimpinan Pesantren
Pesantren Minhajus Sunnah secara keseluruhan berada dibawah naungan Yayasan Pondok yang diketuai oleh Abu Abdillah Muhammad al-Makassari. Adapun pembagiannya adalah pengurus harian yang membidangi non-pendidikan, yaitu logistic, sarana dan prasarana, bendaraha, sekretaris dan koperasi. Sedangkan bidang pendidikan langsungd alam kendali para ustadz dan stafnya yaitu para santi senior dan pengajar Tahfidz al-Qur’an.
Adapun struktur organisasi Pesantren terdiri dari pengasuh/Pembimbing, yang membawahi secara langsung pengurus harian, baik bidang non-pendidikan maupun bidang pendidikan. Pengurus harian ini bertugas untuk melaksanakan kebijakkan yang telah digariskan oleh masing-masing pengelola pesantren.
Personalia kepengurusan dipilih melalui rapat oleh pengasuh, pengurus harian, para ustadz dan wakil santri, untuk kemudian diminta persetujuan dari Pengasuh/Pembimbing
e. Corak Keilmuan dan Kurikulum
System yang digunakan dalam mendalami kitab-kitab adalah system sorogan dan bandongan. Yang mengajar system sorogan adalah ustadz yeng telah teruji keilmuannya. Mereka alumni Ma’had dari Yaman dan Madinah. Sedangkan materi kitab yang dikaji dalam system sorogan adalah sesuai persetujuan pengurus Pondok, ustadz dan para staf.
f. Fasilitas Pesantren
Fasilitas yang dimiliki Pesantren Minhajus Sunnah adalah sebuah bangunan Mesjid, dua gedung asrama santri. Gedung pertama ditempati santri tahfidz Qur’an, sekaligus sebagai tempat tinggal. Sedangkan gedung kedua ditempati santri dewasa, terdiri dari dua lantai. Di lantai dua terdapat perpustakaan dengan koleksi buku-buku berbahasa Arab, disamping koleksi kaset CD MP3 daurah di berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan para staf tinggal di sekitar Komplek Pesantren itu juga.

PENUTUP
SIMPULAN
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Di lembaga inilah diajarkan dan didikakan ilmu dan nilai-nilai agama kepada santri. Pada tahap awal pendidikan di pesantren tertuju semata-mata mengajarkan ilmu-ilmu saja lewat kitab-kitab klasik atau kitab kuning
Pengertian pesantren berasal dari kata santri, dangan awalan pe-dan akhiran-an berarti tempat tinggal santri. Soegarda Poerbakawatja juga menjelaskan pesantren berasal dari katasantri yaitu seseorang yang belajar agama Islam, sehingga dengan demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Ada juga yang mengartikan pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bersifat “tradisional” untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian.

DAFTAR PUSTAKA
Daulay Haidir Putra, pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, 2006 Jakarta: Kencana.
Dhofier Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa, 2009 Yogyakarta: Nawesea Press.
Muin M. Faiqoh Wakhid Khozin Husen Hasan Basri,Pendidikan Pesantren dan Potensi Radikalisme, 2007 Jakarta: CV. Prasasti.

Pendidik

Enonk Eno Reply 6/27/2012
A. Pengertian


Secara etimologi pendidik adalah orang yang memberikan bimbingan. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang pendidikan. Pengertian pendidikan mencakup tiga pengertian sekaligus yakni tarbiyah, ta’lim, ta’dib. Dapat kita ambil pemahaman, pengertian pendidik dalam islam adalah Murabbi, Mu’allim dan Mu’addib.
Pengertian mu’allim mengandung arti konsekuensi bahwa pendidik harus mu’allimun yakni menguasai ilmu, memiliki kreatifitas dan komitmen yang tinggi dalam mengembangkan ilmu.Sedangkan konsep ta’dib mencakup pengertian integrasi antara ilmu dengan amal sekaligus, karena apabila dimensi amal hilang dalam kehidupan seorang pendidik, maka citra dan esensi pendidikan islam itu akan hilang.
Selanjutnya dalam bahasa Arab dijumpai kata ustadz, Mudarris, Mu’allim, dan mu’addib. Secara keseluruhan kata-kata tersebut terhimpun dalam satu kata pendidik karena semua kata tersebut mengacu kepada seorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kepada orang lain.
Secara terminologi terdapat beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian pendidik, antara lain:
a. Ahmad D. Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul tanggung jawab untuk mendidik.
b. Ahmad Tafsir menyatakan bahwa pendidik dalam islam sama dengan teori di barat yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap peserta didik.
c. Muri Yusuf, mengemukakan bahwa pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dari beberapa definisi di atas, maka yang dimaksud subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami dan dikembangkan oleh objek pendidikan.
B. Ayat Tentang Subyek Pendidikan
1. Ar-Rahman : 1 - 4
Artinya : (Tuhan) Yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran.
Allah yang maha pemurah, yang rahmatnya meliputi segala sesuatu. Allah SWT Yang Maha Pemurah di dunia dan di akhirat dan Maha Penyayang di keduanya. Pada ayat ini Allah yang maha pemurah mengatakan bahwa Ia telah mengajarkan nabi Muhammad. Al-qur’an dan nabi Muhammad telah mengajarkan umatnya. Ayat ini turun sebagai bantahan bagi penduduk Mekkah yang mengatakan :
إنما يعلمه بشر
Artinya : ”sesungguhnya Al-qur’an itu diajarkan seorang manusia kepadanya (Muhammad)”.
Oleh karena isi ayat ini mengungkapkan beberapa ni’mat Allah atas hambanya, maka ayat ini dimulai dengan menyebutkan ni’mat yang paling besar faedahnya dan paling banyak manfaatnya bagi hambanya, yaitu ni’mat mengajar Al-qur’an. Maka manusia dengan mengikuti ajaran Al-qur’an akan berbahagialah di dunia dan di akhirat, dan dengan berpegang teguh kepada petunjuk-petunjuk-Nya niscaya akan tercapailah tujuan di kedua tempat tersebut. Al-qur’an adalah induk kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada sebaik-baik makhluk Allah yang berada di bumi ini.

Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.
Allah SWT mengajari manusia kepandaian berbicara dengan lisan tentang semua yang terlintas dalam sanubari. Inilah yang mengistimewakan manusia dari makhluk lainnya.
Dalam ayat ini Allah menyebutkan ni’mat kejadian manusia yang menjadi dasar semua persoalan dan pokok segala sesuatu. Sesudah Allah menyatakan ni’mat mengajar Al-qur’an pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Dia menciptakan jenis makhluknya ini dan diajarkannya pandai membicarakan tentang apa yang tergores dalam jiwanya dan apa yang terpikir oleh otaknya. Kalaulah tidak tentu Nabi Muhammad tidak akan mengajarkan Al-qur’an kepada umatnya. Ini adalah suatu anugerah rohaniyah yang sangat tinggi nilainya dan tidak ada bandingannya dalam hidup. Dari itu ni’mat ini didahulukan sebutannya dari ni’mat-ni’mat yang lain.
Kaitan ayat ini dengan subjek pendidikan sebagai berikut:
a. Kata ar-Rahman menunjukkan bahwa sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia kepada anak didiknya dan siapa saja.
b. Seorang guru hendaknya memiliki ilmu kependidikan yang baik sebagaimana Allah mengajarkan al-Quran kepada Nabi-Nya
c. Al-Quran menunjukkan sebagai materi yang diberikan kepada anak didik adalah kebenaran/ilmu dari Allah.
d. Keberhasilan pendidik adalah ketika anak didik mampu menerima dan mengembangkan ilmu yang diberikan, sehingga anak didik menjadi generasi yang memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual.

2. An-Najm : 5-6

Artinya ; yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli.

Dalam surat an-najm ayat 5-6 dijelaskan bahwa yang menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad SAW adalah malaikat jibril yang mana diberi potensi aqliyah yang sempurna kemudian dia (Jibril) juga menampakan diri dengan rupa yang asli dan tampil sempurna.
Dan dalam surat ini juga dijelaskan bahwa subjek pendidikan adalah malaikat Jibril yang mana punya potensi yang kuat yang menerima wahyu-wahyu al-quran untuk disampaikannya kepada nabi Muhammad SAW karena bagaimanapun malaikat jibril itu sebelum menyampaikan wahyu telah memperoleh pengajaran dari Allah dan tentunya malaikat Jibril mengajarkan firman Allah kepada nabi Muhammad tanpa adanya pengajaran dari Allah.

3. An-Nahl : 43 – 44

Artinya: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.
Ayat ini menegaskan bahwa: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu kepada umat manusia kapan dan di mana pun, kecuali orang-orang lelaki, yakni jenis manusia pilihan, bukan malaikat yang kami beri wahyu kepada mereka antara lain melalui Malaikat Jibril; maka wahai orang-orang yang ragu atau tidak tahu bertanyalah kepada ahl adz-Dzikr, yakni orang-orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
Dengan kata lain, dalam ayat ini, Allah menuturkan, “Kami tidak mengutus sebelum kamu, wahai Muhammad, seorang rasul pun kepada kaum mana pun, melainkan rasul itu dikukuhkan dan dibekali dengan wahyu Kami, yang terhadapnya kaummu mengemukakan keberatan soal mengapa nabi mereka bukan seorang malaikat, melainkan hanya seorang manusia. Katakanlah kepada mereka agar mereka mancari kebenaran dengan merujuk kapada ahludz dzikr (ahli zikir), yakni orang-orang yang memiliki pengetahuan dan para ulama di tengah setiap kaum, jika mereka tak mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah tersebut kepada para nabi yang termasuk dalam jenis manusia.Maka tanyakanlah kepada ahli kitab dahulu di antara orang-orang Yahudi dan Nasrani, apakah para utusan yang di utus kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Jika mereka itu malaikat silakan kalian mengingkari Muhammad SAW. Tetapi jika mereka itu manusia, jangan kalian ingkari dia.
Para rasul yang kami utus sebelum itu semua membawa keterangan-keterangan, yakni mukjizat-mukjizat nyata yang membuktikan kebenaran mereka sebagai rasul, dan sebagian membawa pula zubur, yakni kitab-kitab yang mengandung ketetapan-ketetapan hukum dan nasihat-nasihat yang seharusnya menyentuh hati, dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr yakni Al-Qur’an, agar engkau menerangkan kepada seluruh manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, yakni Al-Qur’an itu, mudah-mudahan dengan penjelasanmu mereka mengetahui dan sadar dan supaya mereka senantiasa berpikir lalu menarik pelajaran untuk kemaslahatan hidup duniawi dan ukhrawi mereka.
Kata az-zubur adalah jamak dari kata zabur, yakni tulisan. Yang dimaksud di sini adalah kitab-kitab yang ditulis, seperti Taurat, Injil, Zabur dan Shuhuf Ibrahim as. Para ulama berpendapat bahwa zubur adalah kitab-kitab singkat yang mengandung syariat, tetapi sekedar nasihat-nasihat.
Adapun kaitannya dengan topik yang dibahas adalah bahwa seorang guru dalam perannya sebagai ahli al-dzikr selain berfungsi sebagai orang yang mengingatkan para objek pendidikan atau peserta didik dari berbuat yang melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya, juga sebagai seseorang yang mendalami ajaran-ajaran yang berasal dari Tuhan yang terdapat dalam berbagai kitab yang pernah diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya dari sejak dahulu kala hingga sekarang. Sebagai ahli al-dzikr ia dapat mencari titik persamaan antara ajaran yang terdapat di dalam berbagai kitab tersebut untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Al-Kahfi : 66

Dalam al-Qur’an Allah mencontohkan bagaimana nabi Musa belajar kepada nabi Khaidir. Sebagaimana terdapat dalam surat al-Kahfi ayat 66

Artinya: Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Surah Al-Kahfi ayat 66 di atas bila dikaitkan dengan pembahasan kita yaitu subyek pendidikan (guru) adalah seorang guru -yang mempunyai ilmu pengetahuan- tidak boleh menyimpan ilmunya, malah sebaliknya dia harus senang bila ada orang yang mau belajar kepadanya. Seperti halnya kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa as. di atas. Penyembunyian ilmu dapat juga diartikan sebagai penyembunyian ilmu dengan tidak mengamalkan ilmu itu.

Sedangkan al-Abrasyi menyebutkan bahwa guru dalam Islam sebaiknya memiliki sifat-sifat sebagai berikut ini:
• Zuhud: tidak mengutamakan materi, mengajar dilakukan karena mencari keridaan Allah
• Bersih jiwanya dan badannya
• Sesuai perbuatan dengan perkataan
• Tidak malu mengakui ketidaktahuan
• Bijaksana, rendah hati, lemah lembut dan pemaaf
• Sabar, berkepribadian dan tidak merasa rendah diri
• Ikhlas dalam melaksanakan tugas, tidak riya’, tidak memendam rasa dengki dan iri hati.
BAB III
SIMPULAN
Dalam surat An-Najm ayat 5-6 dijelaskan bahwa subjek pendidikan adalah malaikat Jibril yang mana punya potensi yang kuat yang menerima wahyu-wahyu al-quran untuk disampaikannya kepada nabi Muhammad SAW karena bagaimanapun malaikat jibril itu sebelum menyampaikan wahyu telah memperoleh pengajaran dari Allah.
Begitupun dengan manusia, sebagai makhluk sosial yang menjalankan fungsinya sebagai subyek pendidikan diharuskan pula memiliki kriteria-kriteria tersebut. Sebab tanpa potensi yang kuat dalam menjalankan fungsinya tersebut maka pengajaran yang dihasilkan pun akan berbanding terbalik dengan yang diharapkan. Karena itulah seyogyanya seorang guru memiliki kriteria-kriteria atau sifat-sifat tersebut.
Adapun sifat-sifat yang baik dan terpuji yang dapat dijadikan sebagai perhiasan oleh para guru (pengajar) yang fungsinya sebagai obyek pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Rendah hati (tawadhu’), pada hakekatnya, hendaknya seseorang meminta kerendahan hati kepada Allah SWT. untuk dirinya, yaitu dengan merendahkan di hadapan Allah dan khusyu’.
2. Ikhlas, yaitu mengharapkan ridha Allah sebagai sikap taat dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan setiap perbuatan yang dilakukannya, sehingga ia tidak menghendaki perbuatannya atau pun perkataanya kecuali untuk Allah Ta’ala.
3. Memberikan nasihat kepada kaum muslimin pada umumnya dan kepada murid-murid yang diajarnya pada khususnya.









DAFTAR PUSTAKA

Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta, Pustaka pelajar, 2004)
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992)
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-qur’an dan Tafsirnya, (CV. Darma pala, 1998), jilid IX
Abdullah Yusuf Ali, Qur’an Terjemahan dan Tafsirnya, terj. The Holy Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), cet. III
Abdullah bin Muhammad, Lubaabut Tafsir min Ibni Katsir, Kairo, Daar al-Hilal, terj. Abdul Ghoffar dan Abu Hasan, Tafsir Ibnu Katsir, (Bogor, Pustaka Imam Syafi’I, 2008)
Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Penelitian Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1987)

Cari disini

logo blogger banua taken at randi azmi blog photo bloggerbanua_zpsc4d799fd.png
 photo logobloggeryeskompres.png
donor photo Reinhart-Blood-Drive.png

Cerita² Enonk

#Pengunjung

Instagram