Ikuti @fauzinesia

KH.Muhammad Zuhri

Enonk Eno Reply 6/27/2012


Biografi KH. Muhammad Zuhri
Muhammad Zuhri dilahirkan di desa Tangsawa 10 km dari arah pedalaman kota Amuntai, pada hari rabu 15 Mei 1925, sekitar pukul 11 siang. Dari pasangan suami istri yang bernama Abdullah dan Sariyunah dari kalangan petani.
Dikalangan teman-teman sebayanya, Muhammad Zuhri (kecil) tidak asing lagi. Dia adalah anak yang rajin, cerdas, berbakat dan suka bergaul. Kecerdasannya terlihat ketika dia hanya memerlukan waktu yang singkat dalam menghafal sesuatu dibanding dengan anak-anak yang lain.
Zuhri adalah anak terakhir dari tiga bersaudara, walaupun demikian ia sama sekali tidak menampakkan sifat dan sikap manja. Meski tidak disuruh dan diajak pergi kesawah oleh orang tuanya, Muhammad Zuhri seringkali ikut bersama orangtuanya ke kebun atau kesawah. Menangkap ikan di sawah atau di sungai merupakan salah satu kesenangannya, dengan demikian orang tuanya tidak perlu lagi membeli ikan karna cukup ikan yang diperolehnya saja untuk dimakan bersama-sama.
Meski sibuk bermain, membantu orang tua atau pergi memancing, namun kebiasaanya mengaji tidak pernah ditinggalkan. Sejak kecil Muhammad Zuhri sudah dididik mempelajari dan memperdalam agama melalui bacaan Al-quran, sehingga sejak kecilnya dia sudah beberapa kali menamatkan Al-quran, bahkan banyak surah-surah pendek yang telah ia hapal diluar kepala.
Sebagai anak yang diharapkan menjadi generasi penerus di masa mendatang, Muhammad Zuhri memasuki sekolah diniah (agama) yang terdapat di desanya tersebut. Walaupun Sekolah ini sangat sederhana, namun bagi orang tuanya yang penting anaknya sekolah dan mengecap pendidikan, tidak perlu memperhatikan kondisi tersebut. Baginya, pendidikan tidak boleh berhenti.
Mengingat terbatasnya sarana pendidikan, waktu belajar dan kualitas guru yang mengajar, maka Muhammad Zuhri juga diberikan pendidikan tambahan di rumah, terutama pelajaran agama, seperti fiqih A-quran.
B. Ikut Merantau
Menyadari pentingnya arti pendidikan bagi anak-anaknya sebagai salah satu upaya mendidik anak yang shaleh dan agar anak-anaknya dapat meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, maka H. Abdullah beserta istri memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman merantau ketempat lain.
Keluarga Abdullah sebenarnya tidak memiliki tujuan yang jelas ke desa atau ke kota mana pergi. Namun langkah demi langkah sampailah mereka di Tapus Amuntai.
Di Tapus inilah Abdullah memasukkan anaknya Muhammad Zuhri dan kakak-kakaknya untuk bersekolah. Namun, karna kebutuhan ekonomi keluarga yang semakin tinggi sedangkan pendapatan tidak memadai, mengakibatkan keluarga ini harus mencari tempat baru yang mungkin dianggap lebih baik.
Akhirnya keluarga Abdullah memasuki kota Banjarmasin tepatnya di desa Tatah Amuntai. Di desa inilah mereka tinggal dan menetap dengan mata pencaharian bertani.
Setelah beberapa lama tinggal di desa itu, bahkan sempat membangun rumah dan membeli beberapa lahan sawah, akhirnya keluarga Abdullah memutuskan untuk mencari tempat baru dan terpaksa meninggalkan semua itu dikarenakan sekolah yang di tempati oleh Muhammad Zuhri ternyata ditutup akibat kurangnya tenaga pengajar dan pendanaan untuk keperluan sekolah, bagi Abdullah pendidikan itu sangat penting untuk anak-anaknya karena itulah Abdullah memutuskan untuk mencari tempat baru yang secara ekonomis dan geografis dapat mendukung kehidupan mereka. Maka dengan keyakinan yang kuat mereka menuju sebuah perkampungan yang bernama Rumpiang yang pada saat itu masih layak disebut hutan, berjarak kurang lebih 20 km kearah selatan dari jantung kota Banjarmasin dan 60 km dari kota Martapura.
Abdullah beserta keluarganya dan beberapa penduduk kampung lainnya membuka hutan untuk dijadikan perkampungan yang cukup memadai untuk dihuni oleh penduduk. Kenapa dia mau membuka hutan dan menetap di kampung tersebut, padahal di kampong ini tidak terdapat sekolah?
Ada dua alasan untuk menjawab pertanyaan itu. Pertama, beliau ingin kampung Rumpiang yang masih ditumbuhi oleh kayu-kayu dan semak dibentuk menjadi desa yang nyaman, damai dan aman. Kedua, beliau bertekad ingin mendirikan sekolah dan beliau sendiri yang akan menjadi penanggung jawab proses pendidikannya. Karena menurut beliau, selama ini sekolah buka tutup diakibatkan tidak baiknya pengelolaan dan tidak adanya tokoh yang kommit terhadap penyelenggaraan pendidikan.
Setelah satu tahun tinggal dan membuka kampung rumpiang tepatnya pada tahun 1939 sekolah yang diinginkan dapat berdiri dengan nama Sekolah Islam. Para murid pun dapat menikmati pendidikan yang diberikan oleh guru-guru binaan Abdullah, tapi sayang pada kenyataannya, proses pendidikan di sekolah islam ini pun hanya bertahan setahun setelah itu ditutup. Penutupan lembaga pendidikan tersebut dikarenakan ketiadaan guru yang mau dan mampu serta ikhlas mengajar di lembaga tersebut.
Melihat kondisi seperti itu, tidak ada jalan lain bagi Abdullah kecuali menyuruh anak-anaknya harus mandiri dan tidak boleh terikat lagi dengan situasi yang ada. Maka Muhammad Zuhri pun mengembara mencari ilmu menuju kota Amuntai, sebab disana pendidikan sudah cukup baik dan jenjang-jenjangnya pun sudah tersedia dari tingkat dasar menengah dan atas.
Di Amuntai Muhammad Zuhri sempat mengecap pendidikan kurang lebih satu tahun, karena dirasa terlau jauh dengan orang tua dan juga komunikasi tidak terlalu lancar, dia memutuskan untuk pindah meneruskan pendidikannya di tempat yang dirasa lebih dekat, yaitu di pondok pesantren Darussalam Martapura.
Di Pondok Pesantren Darussalam inilah dia menempa diri untuk “menjadi”. Menjadi diri sendiri dan menjadi pelita bagi orang lain yang dapat menerangi kehidupan manusia di tengah gelap.
Pada tahun 1949, beliau menyelesaikan pendidikan di Darussalam Martapura dan akhirnya kembali dengan orang tua. Namun ternyata obsesi beliau untuk menggali ilmu tidak berhenti dan sampai di situ, beliau begitu puas dengan ilmu yang dimiliki, untuk mewujudkan cita-citanya itu, Muhammad Zuhri kemudian belajar secara pribadi kepada beberapa guru yang terkenal pada masanya, diantaranya K.H. Ismail di kertak hanyar dan H. Asmaun di Negara.
C. Menemukan Jodoh
Setelah menyelesaikan pendidikan formal dan non formal, Muhammad Zuhri kembali ke desa Rumpiang untuk mengurusi pesantren yang telah didirikan oleh orang tuanya. Usianya pun mendekati usia matang yaitu sekitar 19 tahun, usia yang dianggap matang dan ideal untuk memasuki kehidupan baru.
Ketika itu sesungguhnya Muhammad Zuhri tidak memiliki keinginan yang kuat untuk menikah disebabkan oleh faktor ekonomi yang belum mapan serta calon istri yang belum juga ditemukan. Tetapi bagi Muhammad Zuhri, istilah atau ungkapan “mencari jodoh” tersebut ternyata tidak berlaku, karna jodoh itu sendiri yang mendatangi beliau. Bagaimana caranya?
Setiap tahun desa Rumpiang kebanjiran para pendatang luar yang ingin bekerja sebagai penggarap sawah. Salah satu rombongan pencari kerja yang berasal dari Sungai Seluang bekerja di persawahan H. Abdullah dan di antara para rombongan itu terdapat seorang anak gadis remaja yang masih muda belia berumur kira-kira 10 tahun bernama Jamilah. Sesuai dengan namanya dalam bahasa Arab berarti cantik, maka bukan saja segala perilaku dan ucapannya baik, tetapi dia merupakan gading yang cantik dan anggun, tampak air mukanya mencerminkan sosok kewanitaan dan keibuan. Karena itulah H. Abdullah berkeinginan untuk menjadikan sebagai menantu. Kebetulan pada saat itu, anak beliau Muhammad Zuhri belum menikah sementara usia sudah dianggap dewasa dan matang untuk hidup berumah tangga.
Tanpa banyak cerita, akhirnya keluarga H. Abdullah memutuskan untuk melamar Jamilah, dan keinginan tersebut pun juga ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya Muhammad Zuhri mempersunting gadis desa tersebut sebagai istri dengan mahar hanya sebesar Rp. 50. Dengan diantar naik Jukung dari Rumpiang ke Sei Seluang Muhammad Zuhri melangsungkan pernikahan.
Di Sei Seluang, beliau hanya tinggal setengah bulan, kemudian meninggalkan istri karena melanjutkan sekolah di Kertak Hanyar, kemudian melanjutkan di Martapura. Salama proses pendidikan seperti itu berlangsung Muhammad Zuhri menitip istri kepada bapak dan ibu mertua yaitu Saradang dan Fatimah. Setiap 3 bulan sekali Muhammad Zuhri menemui istri.
Dalam kehidupan keluarga keduanya saling cinta mencintai dan sayang menyayangi hingga sampai sekarang ini hidup berkeluarga dengan jumlah anak 11 orang, 8 orang hidup dan 3 orang yang meninggal di waktu kecil.
D. Belajar di Gontor
Obsesi K.H Muhammad Zuhri untuk mencari ilmu pengetahuan memang tak pernah surut. Meski telah berkeluarga dan memiliki anak, beliau tetap bertekad untuk menimba pengetahuan di pondok Gontor, meski harus berpisah dengan anak dan istri.
Pada tahun 1952, beliau berangkat ke Gontor beserta teman-temannya seperti Aini (rumpiang) dan H. Abdul Hamid (Aluh-Aluh) menggunakan kapal laut menuju pulau Jawa.
Setelah resmi menjadi santri, maka Muhammad Zuhri dan kawan-kawan memulai pendidikan dari kelas 1 tingkat Madrasah Tsanawiyah. Ini berarti jenjang pendidikan yang ditempuhnya harus mulai dari dasar lagi.
“Malang tak dapat ditolak, mujur tka dapat diraih” itulah pepatah yang sering kita dengar dalam kehidupan. Di saat K.H. Muhammad Zuhri tengah menikmati proses pendidikan pada tahun pertama di Gontor, terdengar kabar bahwa orang tuanya Abdullah berpulang ke Rahmatullah (wafat). Namun karena minimnya sarana transportasi, beliau tidak dapat pulang menyaksikan penguburan orang tuanya. Beliau hanya pasrah kepada Allah dan mendo’akan semoga orang tua mendapat rahamt magfirah dari Allah dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.
Awan boleh kelabu, langit boleh mendung, badai boleh mengguncang, air mata boleh berderai memang saat itu K.H. Muhammad Zuhri sedih dan tak dapat menyembunyikan kesedihannya, namun walaupun begitu tekad beliau tidak goyah sedikit pun, justru menjadi obor semangat di dalam dirinya untuk menjadi “dirinya yang senjati”
Singkat cerita, setelah mendapat banyak pengalaman dan menamatkan pendidikan di Gontor, beliau tidak langsung pulang ke kampung halaman, akan tetapi diminta untuk mengajar di Pondok Gontor tersebut selama setahun.
Setelah menyelesaikan semua tugas-tugasnya di Pondok Gotor, pada tahun 1957 beliau kembali ke kampong halaman dan memimpin kembali lembaga pendidikan yang pernah ditinggalkan selama 6 tahun.
E. Wafatnya K.H. Muhammad Zuhri
Satu hari sebelum wafatnya, K.H. Muhammad Zuhri menyuruh orang lain semua halaman rumahnya. Pada malam senin beliau memimpin dan menjadi imam shalat hajat dalam rangka pembangunan rumah salah seorang penduduk desa Rumpiang.
Pagi harinya, beliau merasa tidak enak dibagian perut dan meminta tukang urut untuk mengurutnya. Setelah selesai di urut, beliau pulang kerumah lalu istirahat dan tidur. karena hari semakin sore, sementara beliau belum sholat, maka istri beliau membangunkannya untuk menyuruh sholat ashar. K.H. Muhammad Zuhri pergi ke belakang mengambil air wudhu lalu masuk ke kamar untuk sholat. Istri beliau membiarkan beliau shalat sendirian dan keluar untuk membersihkan kotoran ayam di teras. Namun alangkah terkejut dan kaget istrinya ketika masuk ke kamar mendapati K.H. Muhammad Zuhri sudah terbaring di sajadah menghembuskan nafas terakhirnya pada hari senin 22 April 2002 pukul 15.00.
K.H. Muhammad Zuhri pergi … pergi untuk selamanya, meninggalkln pesan dan kesan yang tiada ternilai harganya. Pergi dengan seberkas senyum di wajahnya … senyum kebahagiaan menghadap Sang Pencipta.

ARTIKEL TERKAIT:

Post a Comment

Mari kasih komentar, kritik, dan saran. Jangan lupa juga isi buku tamunya. :D

NB: No Porn, No Sara', No women, No cry

Cari disini

logo blogger banua taken at randi azmi blog photo bloggerbanua_zpsc4d799fd.png
 photo logobloggeryeskompres.png
donor photo Reinhart-Blood-Drive.png

Cerita² Enonk

#Pengunjung

Instagram