Ikuti @fauzinesia

Biografi Buya Hamka

Enonk Eno Reply 6/27/2012



Nama lengkap beliau adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, tetapi orang menyebutnya dengan Buya Hamka. Lahir di Maninijau, Sumatra Barat, senin 16 Februari 1980. Putra seorang tokoh seorang pembaharu dari Minangkabau, Doktor Haji Abdul Karim Amrullah melekat setelah beliau untuk pertama kalinya naik haji ke Mekkah pada tahun 1927.
Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati. HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
B. Pendidik Ummat
Sosok HAMKA selain sebagai ulama, beliau juga seorang pemikir. D iantara buah pemikiran beliau tentang gagasan pendidikan, baginya pendidikan adalah sarana mendidik watak pribadi-pribadi. Kelahiran manusia di bumi ini tak hanya mengenal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, tapi juga selain beribadah kepada Allah, juga berguna bagi sesama dan alam lingkungannya. Karena itu bagaimana pun kehebatan sistem pendidika moderen, menurut HAMKA tak bisa lepas begitu saja tanpa diimbang denganpendidikan agama. Dan salah satu pemikiran pendidikan beliau yang mendorong pendidikan agama masuk kurikulum sekolah. Bahkan, HAMKA lebih maju lagi, agar ada asrama-asrama yang menampung anak-anak sekolah. Dalam asrama tersebut, mereka tak hanya mendapat pemondokan dan logistik, tapi juga penuh dengan muatan rohani dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pandangan HAMKA, pendidikan di sekolah tak bias lepas dari pendidikan di rumah. Karena menurutnya, mesti ada komunikasi antara sekolah dengan rumah, antara orang tua murid dengan guru. Secara konvesional, antara orange tua murid dengan guru saling bersilaturahmi, sekaligus mendiskusikan tantang perkembangan anak di sekolahnya. Dan masjid adalah sarana untuk pertemuan tersebut.denagn adanya shalat berjamaah di masjid, antara guru, orang tua, dan murid bisa saling berkomunikasi secara langsung. Pemikiran HAMKA diatas akan bias berjalan secara efektif di daerah-daerah pedesaan dimana mobilitas warganya belum begitu tinggi. Di era modern ini, ada sekolah-sekolah yang tetap menjaga semangat keutamaan yang digagaskan oleh HAMKA tersebut. Dengan menggunakan teknologi komunikasi yang beruoa telepon dan internet, komunikasi orang tua dan murid akan terwujud dengan baik.

C. MUI
Ketika majelis Ulama Indonesia (MUI) didirakan pada 27 Juli 1975, HAMKA adalah ketua umum yang pertama. Jabatan ini dipengangnya sampai ia mengundurkan diri pada tanggal 18 Mei 1981. Ketika ia menyampaikan pidato saat pelantikan dirinya, HAMKA mengatakan bahwa dirinya bukanlah sebaik-baik ulama. Ia sangat mengadari bahwa dirinya memang popular, karena sejak usia muda sudah bertabligh, menulis, memimpin majalah Panji Masyarakat,dan menjadi imam besar Masjid Al-Azhar Jakarta yang tekenal itu. Selain itu, suara serak-serak basah bias didengar diradio dan mimbar-mimbar. “Tapi, kepopuleran bukanlah menunjukkan bahwa saya lebi patut”, tuturnya dengan lembut.

Dalam pandangan HAMKA, di tanah air ini masih banyak ulama yang lebih tinggi ilmunya, lebih khusu’ ibadahnya, tapi mereka ini tak masuk dalam kepengurusan mui. Berpuluh bahkan berates agaknya benar-benar ulama yang tidak mau tertonjol atau menonjolkan diri, dan tidak hadir dalam masjelis ini, dan bahkan bersyukur karena mereka tidak mendapat panggilan buat hadir. Oaring-orang seperti itu jarang tampil dan menonjol. Sebab ingin uzlah dari pergaulan yang penuh fitnah ini.
Di institusi MUI, ternyata bukanlah sesuatu yang ringan. Menyandang gelar ulama bukan hal yang enteng. HAMKA menggambarkan secara baik tentang para ulama yang duduk di MUI, ibarat kue bika. Ulama menurutnya, terletak ditengah-tengah laksana kue bika yang sedang dimasak dalam periuk belaga. Dari bawah dinyalakan api, dari atas dihimpit pula dengan apai. Apai dari bawah adalah berupa keluhan dan harapan masyarakat., sedangkan apai dari atas adalah keinginan pemerintah. Jika berat keatas maka putuslah dengan bawah, dan ini mengandung konsekuensi menjadi ulama yang tidak didukung oleh rakyat. Sedangkan bila berat kebawah, maka hilaglah hubungan dengan pemerintah , dan para pejabat bias saja mengecapnya tidak mau berpartisipasi dalam pembangunan. Padahal MUI, punya niatan suci yakni mempertemukan dan menyerasikan antara rakyat dengan pemaerintah.
Ibarat kue bika itu terbukti ketika pada 7 Maert 1981, MUI mengeluarkan fatwa tentang natal. Yakni orang muslim haram menghadiri acara natal yang diselenggarakan kaum Kristiani. Fatwa ini lahir disebabkan banyaknya umat yang secara sukarela, terpaksa atau demi kerukunan, akhirnya mengikuti perayaan natal. Perayaan natal ini diselenggarakan di kantor-kantor, dan di sekolah-sekolah atau kompek perumahan. MUI merasa perlu melindungi umat Islam. Maka, berdasarkan dalil-dalil dalam Alquran dan Alhadist yang kuat, MUI memutuskan haram bagi umat Islam menghadiri acara natal bersama.
Tentu saja, fatwa MUI tersebut memunculkan kotroversi bagi kalangan umata Islam, mayoritas setuju atas fatwa tersebut. Sebaliknya bagi kalanngan Kristiani, memandang bahwa fatwa tersebut tidak mendukung upaya-upaya kerukunan antar umat beragama. Sedangkan pemerintah, dalam hal ini diwakili Mentri Agama, Alamsyah Ratuperwiranegara juga merasa keberatan. Alasannya, fatwa tersebut akan merenggangkan hubungan antar umat beragama yang selama ini sedang dirajut oleh berbagai pihak. Alamsyah meminta agar fatwa dicabut,bahkan ia sempat mengancam, bahwa ia akan mmengundurkan diri sebagai mentri agama bila fatwa tersebut tak dicabut. Tapi MUI dibawah kepemimpinan HAMKA lebih sigap, ia memilih mundur dari MUI dari pada mengikuti kemauan pemerintah yang bertentangan dengan nurani dan akidahnya itu.
Mundurnya HAMKA dari MUI ternyata mengundang simpati masyarakat muslim pada umumnya. Bahkan ia mendapat pujian dan ucapan selamat dari berbagai kalangan umat Islam. Kepada seorang sahabatnya, M Yunan Nasution, HAMKA bercerita, “waktu saya diangkat dahulu tidak ada ucapan selamat, tetapi setelah saya berhenti, saya menerima ratusan telegram dan surat-surat yang isinya mengucapkan selamat”. Sembilan pekan setelah mundur dari MUI, tepatnya pada hari jumat 24 Juli 1981, HAMKA dipanggil sang Ilahi untuk selamanya. Ia wafat dalam keadaan khusnul khatimah.

D. Aktivitas Kesastaraan HAMKA
Selain aktif dibidang keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920 an. HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Dan beliau juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masayarakat, dan Gema islami.
HAMKA menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya adalah tafsir Al-Azhar (5 jilid). Pada 1950, beliau mendapat ksempatan untuk melewati ke berbagai negara daratan Arab. Sepulang dari sana, beliau menulis beberapa roman, antara lain: Mandi cahaya Di Tanah suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum megelesaikan roman tersebut, beliau telah membuat romaan yang lainnya. Seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wiijck, merantau Ke Deli, dan Dalam Lembah Kehidupan.
HAMKA yang juga dikenal sebagai Tuanku Syeh Muda Abuya Prof . Dr. Haji Malik Karim Amrullah , beliau mengatakan ada 4 syarat unruk menjadi pengarang. Pertama, memeliki daya khayal atau imajinasi, kedua, memiliki kekuatan ingatan, ketiga, memiliki kekuatan hapalan, dan yang keempat, memilki kesanggupan mencurahkan tiga hal tersebut menjadi sebuah tulisan.

E. Penghargaan
Atas jasa-jasa dan karya-karya beliau, HAMKA telah menerima anugrah penghargaan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Cairo (1958), Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaisya (1958), dan gelar Datuk Indono dan Pangeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

F. Wafatnya HAMKA
Pada tanggal 24 Juli 1981, HAMKA telah berpulang ke rahmatullah. Jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam agama Islam. Beliau bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di Negara kelahirannya, bahkan jasanya di seantero Nusantara , termasuk Malaisya, Singapura, turut dihargai.


BAB III
PENUTUP

Simpulan
Nama lengkap beliau adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, tetapi orang menyebutnya dengan Buya Hamka. Lahir di Maninijau, Sumatra Barat, senin 16 Februari 1980. Putra seorang tokoh seorang pembaharu dari Minangkabau, Doktor Haji Abdul Karim Amrullah melekat setelah beliau untuk pertama kalinya naik haji ke Mekkah pada tahun 1927.
Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati. HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah.
Sosok HAMKA selain sebagai ulama, beliau juga seorang pemikir. D iantara buah pemikiran beliau tentang gagasan pendidikan, baginya pendidikan adalah sarana mendidik watak pribadi-pribadi. Kelahiran manusia di bumi ini tak hanya mengenal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, tapi juga selain beribadah kepada Allah, juga berguna bagi sesama dan alam lingkungannya. Karena itu bagaimana pun kehebatan sistem pendidika moderen, menurut HAMKA tak bisa lepas begitu saja tanpa diimbang denganpendidikan agama. Dan salah satu pemikiran pendidikan beliau yang mendorong pendidikan agama masuk kurikulum sekolah. Bahkan, HAMKA lebih maju lagi, agar ada asrama-asrama yang menampung anak-anak sekolah.
Pada tanggal 24 Juli 1981, HAMKA telah berpulang ke rahmatullah. Jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam agama Islam. Beliau bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di Negara kelahirannya, bahkan jasanya di seantero Nusantara , termasuk Malaisya, Singapura, turut dihargai.






BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Mohammad, Herry. Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh pada abad 20.(Jakarta: Gema Insani Persada, 2006),
http://id.wikipedia.org/wiki/Haji Abdul Malik Karim Amrullah,

http://luluvikar.wordpress.com/2005/08/01/biografi-buya-hamka/.

ARTIKEL TERKAIT:

Post a Comment

Mari kasih komentar, kritik, dan saran. Jangan lupa juga isi buku tamunya. :D

NB: No Porn, No Sara', No women, No cry

Cari disini

logo blogger banua taken at randi azmi blog photo bloggerbanua_zpsc4d799fd.png
 photo logobloggeryeskompres.png
donor photo Reinhart-Blood-Drive.png
 photo d39e79d0-9aac-4f0f-b6d9-9fc59330d1a2-2.png

Cerita² Enonk

#Pengunjung

Instagram