Ikuti @fauzinesia

Sejarah Perkembangan Pesantren Tebuireng

Enonk Eno Reply 6/27/2012
A.


Bahwa pesantren Tebuireng, selain memelihara tradisi pesantren yang telah mapan, telah mengalami perubahan-perubahan yang mendasar sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Di samping itu, karena pesantren Tebuireng merupakan pesantren yang paling berpengaruh di Jawa dalam abad 20 ini, maka tidaklah mungkin mengupas perkembangan Tebuireng tanpa mengupas keterlibatan pimpinan tertinggi pesantren dalam perkembangan sosial, politik dan Islam di Indonesia.
Pesantren Tebuireng, yang mulai menarik sejumlah mahasiswa yang telah mencapai tingkatan tinggi dalam pengetahuan Islam sejak pendiriannya pada tahun 1899, hanya memerlukan 10 tahun untuk mengembangkan diri menjadi sebuah pesantren besar. Hal disebabkan karena pendirinya, Hadrastus-Syekh, adalah seorang yang tinggi pengetahuan Islamnya dan memiliki kecakapan organisasi dan manajemen yang cukup. Namuan demikian, tidaklah benar untuk menyimpulkan bahwa perkembangan Tebuireng menjadi sebuah pesantren yang besar dan paling berpengaruh di Jawa, semata-mata karena pribadi Hadratus-Syekh.
Banyak kyai yang turut memberikan andil yang cukup besar bagi kejayaan Tebuireng. Tidak diragukan lagi, sukses Hadratus-Syekh adalah karena dukungan pembantu-pembantunya yang kompoten. Kebanyakan kyai-kyai seniornya, sepertio kyai Alwi, Kyai Ma’sum, Kyai Baidhawi, Kyai Ilyasm dan Kyai Wahid Hasyim, adalah keluarga dekatnya yang memegang peranan yang menentukan bagi perkembangan Tebuireng. Seperti pesantren-pesantren yang lain, Tebuireng antara 1899-1916 mengikuti sistem pengajaran sorogan dan bandungan. Saat ini sistem sorogan tidak dipakai lagi. Sejauh mana sistem sorogan ini dipakai pada waktu permulaannya, tidak diketahui dengan pasti, tetapi barangkali sangat terbatas, karena sejak semula Tebuireng lebih memusatkan kegiatannya pada bidang pendidikan menengah dan tinggi. Sistem musyawarah yang dikembangkan oleh Hadratus-Syekh efektif.
Dalam 20 tahun pertama dari pertumbuhan Tebuireng, Kyai Alwi, saudara ipar Hadratus-Syekh, yang juga mengikuti pendidikan tujuh tahun di Mekkah, memainkan peranan yang aktif. Kyai Ma’sum menantu pertama Hadratus-Syekh, adalah anggota pimpinan Tebuireng yang pertama kali mengenalkan sistem madrasah pada tahun 1916 dan pengajaran pengetahuan umum pada tahun 1919.
Ia menulis buku-buku tentang contoh-contoh morfologi kata-kata Arab, aljabar, dan matematik. Ia termasuk seorang kyai yang masyhur dan disegani, dan memberikan handil besar bagi perubahan dan pengembangan pesantren di abad ke-20 ini.
Antara tahun 1916 dan 1934, madrasah Tebuireng membuka tujuh jenjang kelas dan dibagi ke dalam dua tingkatan. Tahun pertama dan tahun kedua dinamakan sifir awal dan sifir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki madrasah lima tahun berikutnya. Para peserta sifir awal dan tsani dididik khusus untuk memahami bahasa Arab sebagai landasan penting bagi pendidikan madrasah lima tahun. Kurikulum madrasah antara 1916-1919 terdiri dari pengetahuan agama Islam saja. Dari tahun 1919 mulai ditambah dengan pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia (Melayu), Matematika dan Ilmu Bumi, mulai tahun 1926 ditambah pula pelajaran Bahasa Belanda dan Sejarah. Kedua pelajaran ini mulai diperkenalkan oleh Kyai Ilyas, keponakan Hadratus-Syekh yang menamatkan pelajarannya di H. I. S. Surabaya, dan mulai mengajar di Tebuireng sebagai Direktur madrasah pada tahun 1928, sedangkan Kyai Ma’sum sendiri ditunjuk untuk memimpin pesantren Seblak. Dalam tahun 1934, madrasah ini diperpanjang masa belajarnya menjadi 6 tahun, berangkali disebabkan karena semakin meluasnya kurikulum pengetahuan umum.
Kyai Wahid Hasyim, putera tertua Hadratus-Syekh, memainkan peranan penting bagi modernisasi Tebuireng. Ia dilahirkan tahun 1914. Sejak masih sangat muda ia telah dikenal cerdas dan kreatif. Sampai dengan umur 13 tahun, ia belajar dengan ayahnya tentang Bahasa Arab dan dasar-dasar pengetahuan tauhid, Fiqih dan Kesusastraan Arab. Ia demikian cerdas sehingga dalam umur tersebut telah mengajar para santri yunior. Antara umur 13 dan 15 tahun ia belajar di berbagai pesantren.
Perhatian Kyai Wahid Hasyim tidak hanya terbatas kepada pelajaran kitab-kitab Islam klasik. Sekembalinya ke Tebuireng pada tahun 1929, ia mempelajari Bahasa Belanda dan Inggris dan berlanggalan berbagai majalah seperti Penyebar semangat, Daulat Ra’jat, dan lain-lain. Hal ini memudahkan kita dapat memahami kenapa Wahid Hasyim kelak menjadi pemain yang kreatuf, bagi pemunculan dan pertumbuhan negara Indonesia moderen. Sebagai putera dari seorang tokoh pesantren yang sangat berpengaruh, Kyai Wahid Hasyim mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk mengarahkan dan peranan pesantren di Indonesia ke-20 ini.
Antara tahun 1932 dan 1933, sewaktu ia berumur 17 tahun, ia belajar selama 1 tahun di Mekkah. Sekembalinya ke Tebuireng, ia mengusulkan kepada ayahnya suatu perubahan radikal dalam sistem pengajaran di pesantren. Usul itu antara lain agar sistem bandongan diganti dengan sistem toturial yang sistematis dengan tujuan untuk mengembangan inisiatif dan kepribadian santri. Ini berarti perkembangan di pesantren tidak terbatas hanya pengajian kitab-kitab Islam klasik, melainkan santri diajarkan lebih banyak lagi pelajaran umum. Pada tahun 1950, Kyai Wahid Hasyim menjelaskan usul perubahan itu sebagai berikut: mayoritas santri yang belajar dilembaga-lembaga pesantren tidak bertujuan untuk menjadi ulama. Bagi mereka ini sebenarnya tidak perlu mempelajari bahasa Arab dan kitab-kitab Islam klasik dalam Bahasa Arab.
Dengan demikian, mereka ini selama ini dianggap oleh Kyai Wahid Hasyim melakukan sesuatu yang memboroskan waktu saja. Bagi mereka mengikuti latihan ini kehidupan beberapa bulan di pesantren dan mempelajari Islam yang ditulis dalam bahasa Indonesia akan cukup memadai sedangkan sebagian besar waktunya di pesantren akan lebih bermanfaat bila dipakai untuk belajar berbagai pengatahuan dan keterampilan praktis. Kyai Wahid Hasyim berpendapat bahwa pengajaran kitab-kitab asli Islam dalam bahasa Arab hendaknya terbatas bagi sejumlah kecil santri yang memang akan dididik untuk menjadi ulama.
Hadratus-Syekh tidak menyetujui usul-usul Kyai Wahid Hasyim tersbeut. Hadratus-Syekh berpendapat bahwa perbuhan radikal seperti itu akan menciptakan kekacauan antara sesama pemimpinan pesantren. Namun demikian, Hadratus-Syekh menyetujui usul Wahid Hasyim yang lain yaitu pendirian madrasah Nidhomiyah pada tahun 1934 di mana pengajaran pengetahuan umum merupakan 70 persen dari keseluruhan kurikulum.
Dalam tahun tersebut, Kyai Wahid Hasyim juga mendirikan perpustakaan. Selaian 1.000 judul buku (kebanyakan buku-buku agama Islam), perpustakaan tersebut juga berlangganan majakah dan surat kabar.
Para santri dianjurkan membaca majalah dan surat kabar sebanyak mungkin, surat kabar yang baru dipasang di papan di halaman depan masjid sehingga memudahkan para santri untuk beramai-ramai membacanya. Dengan demikian, para santri memperoleh penerangan yang cukup melalui surat kabar dakam soal-soal sosial, ekonomi, dan politik, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Perkembangan yang lain yang penting dalam periode tersebut ialah mulai diperkenalkannya kursus-kursus pidato, Bahasa Belanda, Inggris dan mengetik. Jumlah santri menjadi banyak, mulai dengan 28 orang santri di tahun 1899, dan 10 tahun berikutnya melonjak hampir mencapai 200 orang menjelang akhir 1910-an dan 10 tahun berikutnya melonjak hampir mencapai 2.000 orang santri. Kompleks pondok baru dibuat di Seblak di tahun 1923 kurang lebih 150 m dari Tebuireng. Pesantren Seblak itu kini menjadi pesantren putri.
Madrasah Nidhomiyah ditiadakan pada waktu Kyai Wahid Hasyim mulai aktif sebagai pimpinan NU di tahun 1938. Ia sejak itu, memilih sebagai menjadi seorang politikus dari pada menjadi seorang pimpinan pesantren. Dalam tubuh NU, ia mula-mula duduk sebagai Wakil Ketua Tanfidhiyyah yang menangani masalah-masalah politik-politik dan pemerintahan. Tahun 1940-an ia terpilih menjadi Ketua Majelis Islam A’la Indonesia.
Pada tahun 1943, Pemerintan Pendudukan Jepang mendirikan Kantor KUA di Jakarta, dan pada tahun 1944 Kyai Wahid Hasyim ditunjuk sebagai Pimpinan KUA mewakili ayahnya yang sebagai pimpinan resmi, tidak bisa meninggal Tebuireng.
Pondok Pesantren Tebu ireng didirikan oleh Kyai Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 M. Beliau dilahirkan pada hari Selasa Kliwon tanggal 24 Dzul Qa’dah 1287 H. bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Kelahiran beliau berlangsung di rumah kakeknya, Kyai Utsman, di lingkungan Pondok Pesantren Gedang Jombang. Hasyim kecil tumbuh dibawah asuhan ayah, ibu dan kakeknya di Gedang. Dan seperti lazimnya anak kyai pada saat itu, Hasyim tak puas hanya belajar kepada ayahnya, pada usia 15 tahun ia pergi ke Pondok Pesantren Wonokoyo Pasuruan lalu pindah ke Pondok Pesantren Langitan Tuban dan ke Pondok Pesantren Tenggilis Surabaya. Mendengar bahwa di Madura ada seorang kyai yang masyhur, maka setelah menyelesaikan belajarnya di Pesantren Tenggilis ia berangkat ke Madura untuk belajar pada Kyai Muhammad Kholil. Dan masih banyak lagi tempat Hasyim menimba ilmu pengetahuan agama, hingga ahirnya beliau diambil menantu oleh salah satu gurunya yaitu Kyai Ya’qub, pada usia 21 tahun Hasyim dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nafisah pada tahun 1892.
Selanjutnya bersama mertua dan isterinya yang sedang hamil pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sambil menuntut ilmu. Namun musibah seakan menguji ketabahannya, karena tidak lama istrinya tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal. kesedihan itu semakin bertumpuk, lantaran empat puluh hari kemudian buah hatinya, Abdullah, wafat mengikuti ibunya. Selama di Mekkah, Hasyim muda berguru kepada banyak ulama’ besar yaitu Syekh Syuaib bin Abdurrahman, Syekh Muhammad Mahfuzh at-Turmusi dan Syekh Muhammad Minangkabau dan masih banyak lagi ulama’ besar lainnya. Sejak pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren terkemuka dan bahkan ke tanah suci Mekkah, beliau ingin mengamalkan ilmu yang telah beliau dapatkan.
Akhirnya beliau mendirikan pondok pesantren yang diberi nama pondok pesantren Tebu ireng. Pondok pesantren Tebu ireng merupakan nama dari sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Propinsi Jawa Timur. Pondok pesantren Tebu ireng terletak didelapan kilometer selatan kota Jombang, tepatnya berada di tepi jalan raya jurusan Jombang – Kediri. Menurut cerita masyarakat setempat, nama Tebu ireng berasal dari “kebo ireng” (kerbau hitam). Konon, ketika itu ada seorang penduduk yang memiliki kerbau berkulit kuning (bule atau albino).
Suatu hari, kerbau tersebut menghilang. Setelah dicari kian kemari, menjelang senja baru ditemukan dalam keadaan hampir mati karena terperosok di rawa-rawa yang banyak dihuni lintah. Sekujur tubuhnya penuh lintah, sehingga kulit kerbau yang semula kuning berubah hitam. Peristiwa mengejutklan ini menyebabkan pemilik kerbau berteriak “kebo ireng …! kebo ireng …!. Sejak itu, dusun tempat ditemukannya kerbau itu dikenal dengan nama “Kebo Ireng”. Namun ada versi lain yang menuturkan bahwa nama Tebu ireng bukan berasal dari kebo ireng seperti cerita di atas, tetapi diambil dari seorang punggawa kerajaan Majapahit yang masuk Islam dan kemudian tinggal di sekitar dusun tersebut. Namun pada perkembangan selanjutnya, ketika dusun itu mulai ramai, nama Kebo Ireng berubah menjadi Tebu ireng. Tidak diketahui dengan pasti apakah karena itu ada kaitannya dengan munculnya pabrik gula di selatan dusun tersebut yang telah banyak mendorong masyarakat untuk menanam tebu sebagai bahan baku gula, yang mungkin tebu yang ditanam berwarna hitam, maka pada akhirnya dusun tersebut berubah menjadi Tebuireng.
Tebu ireng dulu dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan semua perilaku negatif lainnya. Namun sejak kedatangan Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari bersama beberapa santri yang beliau bawa dari pesantren kakeknya (Gedang) pada tahun 1899 M. secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut mulai berubah semakin baik, semua perilaku negatif masyarakat di Tebuireng terkikis habis dalam masa yang relatif singkat dan santri yang mulanya hanya beberapa orang dalam beberapa bulan saja jumlahnya meningkat menjadi 28 orang. Awal mula kegiatan dakwah Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari dipusatkan di sebuah bangunan kecil yang terdiri dari dua buah ruangan kecil dari anyam-anyaman bambu (Jawa: gedek), bekas sebuah warung pelacuran yang luasnya kurang lebih 6 x 8 meter, yang beliau beli dari seorang dalang terkenal.

Satu ruang depan untuk kegiatan pengajian, sementara yang belakang sebagai tempat tinggal Kyai Hasyim Asy’ari bersama istri tercinta Ibu Nyai Khodijah.Tentu saja dakwah Kyai Hasyim Asy’ari tidak begitu saja memperoleh sambutan baik dari penduduk setempat. Tantangan demi tantangan yang tidak ringan dari penduduk setempat datang silih berganti, para santri hampir setiap malam selalu mendapat tekanan fisik berupa senjata celurit dan pedang. Kalau tidak waspada, bisa saja diantara santri terluka karena bacokan. Bahkan untuk tidur para santri harus bergerombol menjauh dari dinding bangunan pondok yang hanya terbuat dari bambu itu agar terhindar dari jangkauan tangan kejam para penjahat.
Dan gangguan yang sampai dua setengah tahun lebih itu masih terus saja berlanjut, hingga Kyai Hasyim Asy’ari memutuskan untuk mengirim utusan ke Cirebon guna mencari bantuan berbagai macam ilmu kanuragan kepada 5 kyai yaitu Kyai Saleh Benda, Kyai Abdullah Pangurangan, Kyai Syamsuri Wanatara, Kyai Abdul Jamil Buntet dan Kyai Saleh Benda Kerep. Dari kelima kyai itulah Kyai Hasyim Asy’ari belajar silat selama kurang lebih 8 bulan. Dan sejak itulah semakin mantap keberanian Kyai Hasim Asy’ari untuk melakukan ronda sendirian pada malam hari menjaga keamanan dan ketenteraman para santri. Dengan perjuangan gigih tak kenal menyerah Kyai Hasyim Asy’ari akhirnya berhasil membasmi kejahatan dan kemaksiatan yang telah demikian kentalnya di Tebu ireng. Pesantren tebu ireng mempunyai peranan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia Salah satu bukti terbaiknya adalah pondok pesantren tebu ireng telah melahirkan beberapa tokoh besar seperti mantan presiden RI, Gus Dur.
Keberadaan Pondok Pesantren Tebu ireng semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas. Dalam perjalanan sejarahnya, hingga kini Pesantren Tebu ireng telah mengalami 7 kali periode kepemimpinan. Secara singkat, periodisasi kepemimpinan Tebuireng sebagai berikut :
1. Periode I : KH. Muhammad Hasyim Asy’ari : 1899 – 1947
2. periode II : KH. Abdul Wahid Hasyim : 1947 – 1950
3. Periode III : KH. Abdul Karim Hasyim : 1950 – 1951
4. Periode IV : KH. Achmad Baidhawi : 1951 – 1952
5. Periode V : KH. Abdul Kholik Hasyim : 1953 – 1965
6. Periode VI : KH. Muhammad Yusuf Hasyim : 1965 – 2006
7. Periode VII : KH. Salahuddin Wahid : 2006 – sekarang

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Keberadaan Pondok Pesantren Tebu ireng semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas. Dalam perjalanan sejarahnya, hingga kini Pesantren Tebu ireng telah mengalami 7 kali periode kepemimpinan. Secara singkat, periodisasi kepemimpinan Tebuireng sebagai berikut :
1. Periode I : KH. Muhammad Hasyim Asy’ari : 1899 – 1947
2. periode II : KH. Abdul Wahid Hasyim : 1947 – 1950
3. Periode III : KH. Abdul Karim Hasyim : 1950 – 1951
4. Periode IV : KH. Achmad Baidhawi : 1951 – 1952
5. Periode V : KH. Abdul Kholik Hasyim : 1953 – 1965
6. Periode VI : KH. Muhammad Yusuf Hasyim : 1965 – 2006
7. Periode VII : KH. Salahuddin Wahid : 2006 – sekarang

DAFTAR PUSTAKA

Dhofier, Zamakhsyari. 1990. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.

ARTIKEL TERKAIT:

Post a Comment

Mari kasih komentar, kritik, dan saran. Jangan lupa juga isi buku tamunya. :D

NB: No Porn, No Sara', No women, No cry

Cari disini

logo blogger banua taken at randi azmi blog photo bloggerbanua_zpsc4d799fd.png
 photo logobloggeryeskompres.png
donor photo Reinhart-Blood-Drive.png

Cerita² Enonk

#Pengunjung

Instagram