Ikuti @fauzinesia

Descartes

Enonk Eno Reply 12/28/2010
FAUZIANNOR
FITRIANI
FITRIANI
HELMINA
NI’MAH
BAB II
PEMBAHASAN

Descartes lahir pada tahun 1596 dan meninggal pada tahun 1650. Descartes adalah orang perancis. Selama 20 tahun ia hidup dibelanda, kemudian di Swedia, karena suasana dalam negara-negara itu lebih bebas daripada di Perancis.
Bukunya yang terpenting di dalam filsafat murni ialah Discours de la Methode (1637) dan Meditations, (1642). Kedua buku ini saling melengkapi satu sama lain. Didalam kedua buku inilah ia menuangkan metodenya yang terkenal itu. Metode keraguan Descartes (Cartesian Doubl). Metode ini sering juga disebut Cogito Descartes.
Ia mengetahui bahwa tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh gereja bahwa dasar filsafat adalah Rasio (Akal). Tokoh-tokoh gereja waktu itu tetap yakin bahwa dasar filsafat haruslah iman
Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat adalah akal, ia menyusun argumentasi yang amat terkenal. Argumentasi itu tertuang didalam metode Cogito tersebut.
Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang dapat diragukan. Mula-mula ia mencoba meragukan semua yang dapat diindera, obyek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah pertama metode Cogito tersebut. Dia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena ada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi dan juga pada pengalaman dengan roh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Didalam mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (jaga), oleh karena itu Descartes berkata , “Aku dapat meragukan bahwa aku duduk disini dalam pakaian siap untuk pergi keluar; ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis seperti itu, padahal aku ada ditempat tidur, sedang bermimpi.” tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga, demikian yang dimaksud oleh Descartes.
Menurut Descartes, dalam keempat keadaan itu (mimpi, halusinasi, ilusi, roh halus), juga dalam jaga, ada sesuatu yang selalu muncul, baik dalam jaga maupun dalam mimpi. Yang selalu muncul itu ialah gerak, jumlah dan besaran (volume). Pada tahap ini Descartes berpendapat bahwa yang tiga inilah yang lebih ada daripada benda-benda. Betulkah yang tiga ini benar-benar ada, lalu Descartes mengujinya, kemudian iapun meragukannya. Yang tiga macam itu ialah matematika. Kata Descartes, matenatika dapat salah. Saya sering salah menjumlah (angka) , salah mengukur (besaran), juga demikian pada gerak. Jadi, ilmu pasti pun masih dapat saya ragukan, tetapi ada yang tidak diragukan oleh Descartes, yaitu dia sedang ragu. Dia tidak ragu dengan keragu-raguannya.
Descartes tidak puas dengan filsafat pada zamannya. Filsafat itu terlalu tergantung pada dalil-dalil filsuf-filsuf zaman dahulu, seperti Aristoteles. Dengan demikian filsafat tidak cukup radikal. Filsafat sebagai ilmu dasariah dan radikal tidak boleh bertolak dari pengandaian-pengandaian apapun. Apa yang diajarkan harus langkah demi langkah dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu hanya ada satu cara untuk menjamin keradikalan filsafat ini, ialah kesangsian. Filsafat harus dimulai dengan menyangsikan segala-galanya. Tidak boleh ada sesuatu apapun yang begitu saja diterima. Dalam kesangsian itu akan kelihatan apa yang dapat bertahan dan apa yang tidak. Dari unsur-unsur yang dapat mempertahankan diri terhadap kesangsian itu filsafat dapat bertolak, sebagai dalil-dalil pertama.
Kesangsian itu disebut metodis untuk membedakannya dari kesangsian yang nyata. Descartes tidak menuntut agar seorang filsuf betul-betul menyangsikan apa saja yang sampai saat itu dipercayai atau diterimanya. Jadi misalnya menyangsikan apakah Allah itu ada atau apakah ia sendiri, sang filosofis, sungguh-sungguh ada. Yang dimaksud dengan kesangsian metodis ialah bahwa filsafat sebagai teori tidak boleh bertolak dari pengandaian-pengandaian yang tidak diperiksa atau disangsikan dulu. Jadi Descartes sendiri boleh saja percaya bahwa Allah itu ada tetapi ia tidak boleh membangun suatu sistem filsafat atas pengandaian bahwa Allah itu ada, kecuali ia dapat memperlihatkan bahwa eksistensi Allah tidak dapat diragukan.
Descartes telah menemukan dasar (basis) bagi filsafatnya. Pondasi itu ialah aku yang berfikir. Pemikiranku itulah yang pantas dijadikan dasar filsafat karena aku yang berfikir itulah yang benar-benar ada, tidak diragukan, bukan pikiranmu. Disini kelihatanlah sifat subyektif, individualistis, humanis dalam filsafat Descartes. Sifat-sifat inilah nantinya yang mendorong perkembangan filsafat pada abad modern.
Dalam metode ini berjalan deduksi yang distinct (tegas). Bila Descartes menemukan suatu idea yang pasti, maka ia dapat menggunakannya. Sebagai premise yang dari sana ia mendeduksi keyakinan lain yang juga distinct.
Setelah pondasi itu ditemukan, mulailah ia mendirikan bangunan filsafat diatasnya. Akal itulah basis yang paling terpercaya dalam berfilsafat.
Inilah kemenangan akal atas iman (hati) pada zaman modern. Ia merupakan reaksi keras terhadap dominasi iman (hati) pada abad pertengahan. Cara ini kemudian diikuti oleh filosof-filosof zaman itu.
Salah satu filusuf yang menaruh perhatian sangat besar terhadap asumsi-asumsi tersebut adalah Rene Descartes yang mengusulkan suatu metode umum yang memiliki kebenaran yang pasti. Dalam karyanya yang termashur Discourse on method, risalah tentang metode diajukan enam bagian penting sebagai berikut.
a. Membicarakan masalah ilmu-ilmu yang diawali dengan menyebutkan akal sehat (Common- sense) yang pada umumnya dimiliki semua orang. Menurut Descartes, akal sehat ada yang kurang, adapula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah.
b. Menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan digunakan dalam aktifitas ilmiah. Bagi Descartes sesuatu yang dikerjakan oleh satu orang lebih sempurna daripada yang dikerjakan oleh sekelompok orang secara patungan.
c. Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai berikut
 Mematuhi undang-undang dan adat istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang diajarkan sejak masa kanak-kanak.
 Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan atau yang paling meragukan.
 Berusaha lebih mengubah diri sendiri dari pada merombak tatanan dunia.
d. Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acapkali terkecoh oleh indera.
e. Menegaskan dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua subtansi yaitu Rescogitans (jiwa bernalar) da res exstensa (jasmani yang meluas)
f. Dua jenis pengatahuan yaitu pengetahuan spekulatif dan pengetahuan praktis. Pengetahuan praktis terkait dengan objek-objek konkrit seperti : api, air, udara, planet dan lain-lain. Sedangkan pengetahuan spekulatif menyangkut hal-hal yang bersifat filosofis.
Descartes memulai filsafat dari metode. Metode keraguan itu bukanlah tujuannya. Tujuan metode ini bukanlah untuk mempertahankan keraguan. Sebaliknya metode ini bergerak dari keraguan menuju kepastian. Keraguan Descartes hanya ditujukan untuk menjelaskan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Ia sendiri tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik keraguan itu, dan menggunakannya untuk membuktikan sesuatu kepastian dibalik sesuatu.







BAB III
PENUTUP
SIMPULAN

 Descartes adalah orang Perancis, lahir pada tahun 1596 dan meninggal pada tahun 1650.
 Selama 20 tahun ia hidup dibelanda, kemudian di Swedia, karena suasana dalam negara-negara itu lebih bebas daripada di Perancis.
 Bukunya yang terpenting di dalam filsafat murni ialah Discours de la Methode (1637) dan Meditations, (1642). Kedua buku ini saling melengkapi satu sama lain.
 Salah satu filusuf yang menaruh perhatian sangat besar terhadap asumsi-asumsi tersebut adalah Rene Descartes yang mengusulkan suatu metode umum yang memiliki kebenaran yang pasti.
 Tujuan metode ini bukanlah untuk mempertahankan keraguan. Sebaliknya metode ini bergerak dari keraguan menuju kepastian. Keraguan Descartes hanya ditujukan untuk menjelaskan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Ia sendiri tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik keraguan itu, dan menggunakannya untuk membuktikan sesuatu kepastian dibalik sesuatu.

ARTIKEL TERKAIT:

Post a Comment

Mari kasih komentar, kritik, dan saran. Jangan lupa juga isi buku tamunya. :D

NB: No Porn, No Sara', No women, No cry

Cari disini

logo blogger banua taken at randi azmi blog photo bloggerbanua_zpsc4d799fd.png
 photo logobloggeryeskompres.png
donor photo Reinhart-Blood-Drive.png

#Pengunjung

Instagram